Wednesday, December 1, 2010

Sodieq






“Oper, setan!”
Suara kesal salah satu temanku yang tak mendapatkan bola itu menambah ramai suasana lapangan sekolah kami. Aroma sore mengambang begitu kental, membuat kami tak ingin cepat-cepat pulang. Ada hal-hal yang lebih mengasyikkan ketimbang tidur siang atau menonton kartun sore.
Ia kemudian datang. Dengan potongan rambut nyaris gundul, berbadan tegap, tak terlalu tinggi, memakai kaos berwarna hijau tentara, dengan bawahan celana training panjang dan mengenakan sepatu Specs.  
“Yak kumpul,” Perintahnya untuk segera memulai ekstrakurikuler sepakbola sore ini.
Ia adalah Pak Odik, guru Penjaskes di sekolah yang juga ditunjuk sebagai pelatih ekstrakulikuler sepakbola. Ia tak sendirian melatih kami. Ada juga pelatih honorer yang ditunjuk sekolah untuk membantu pekerjaannya bernama Pak Herman yang berkumis.
Biasanya sebelum Pak Odik datang ke lapangan, kami menyempatkan diri untuk bermain gol ganti: hanya menggunakan satu gawang, satu kiper, dan beberapa orang akan berusaha memasukkan bola ke dalam gawang berebutan. Orang yang mencetak gol akan menjadi kiper.
Kami bermain dengan cara seperti itu karena kami memang harus berbagi lapangan dengan para anak-anak yang gemar bermain basket. Satu sisi lapangan kami gunakan untuk gol ganti, sisi yang lainnya mereka gunakan untuk bermain basket, meski sebetulnya gawang dan ring basket memang sepasang. Kecuali ekstrakulikuler sudah dimulai, anak-anak yang bermain basket satu persatu menyingkir, sebagaimana anak-anak bola menyingkir jika ekstrakulikuler basket dimulai.
 “Adit sama Dede bantuin bapak, ambil peralatan.”
Aku dan Dede saling menatap. Anak-anak memang suka malas bila diperintah Pak Odik mengangkut peralatan ektrakulikuler sepakbola karena selain berat dan banyak, gudang penyimpanannya pun jauh, letaknya berada di dekat kelas lima di lantai atas, tepat di sebelah kelasku. Kali ini aku dan Dede tentu harus segera menurutinya karena selain tak mungkin menolak, terlaksananya ekstrakulikuler sepakbola sore itu kini ada di pundak kami.
Tetapi sebetulnya ada hal lain yang membuat kami sedikit bersemangat. Bila sudah sore, suasana sekolah kami, apalagi di sekitaran wilayah kelas lima dan kelas enam, menjadi tampak sedikit menyeramkan. Aura mistis mengapung di udara. Karena itulah kami jadi ingin sekaligus melihat-lihat suasana sekolah sore hari. Kami sering mendengar cerita horor dari janitor atau supir jemputan yang memang sudah lama tinggal di daerah sekitaran sekolah. Maklum, dulu sekolah kami bekas rumah sakit yang dikelilingi rawa-rawa dan belukar. Tak heran bila Pak Odik pernah suatu saat bertutur pada kami, “Kalo mau main di sini baca doa dulu, biar nggak kenapa-kenapa.”
Benar saja, sudah dua orang teman kami cedera parah. Entah karena memang ada apa-apa atau hanya terlalu beringas bermain. Apalagi di sekitaran sekolah kami banyak rumah-rumah kosong tak berpenghuni. Pernah satu warga bercerita ketika dulu sekolah kami belum dibangun dan masih banyak ditumbuhi pepohonan, ada seseorang yang malam-malam coba mengambil duren. Ketika duren telah berada di tangannya, duren itu berubah menjadi kepala manusia.

***

Aku membawa dua kantung panjang yang setiap kantungnya berisi lima buah bola. Dede membawa piringan plastik halang rintang dan Pak Odik membawa pemberat kaki serta peralatan lainnya. Anak-anak di lapangan yang menunggu kami bertiga, terlihat sedang mendengarkan instruksi Pak Herman.
Menurutku, sebetulnya pihak sekolah tak usah menggunakan jasa Pak Herman karena aku merasa, dilatih oleh Pak Odik seorang saja sudah lebih dari cukup. Skill, kharisma, taktik dan strategi serta dan semangat Pak Odik jauh di atas Pak Herman yang terlihat biasa saja di mataku. Pak Odik juga menjadi wasit resmi PSSI yang tengah merintis karier untuk menembus liga utama. Tak heran bila para murid mengelu-elukannya.
Tetapi ada satu kebiasaan tak lumrah Pak Odik yang cukup menyita perhatian dan membedakan ia dengan guru lainnya: Ia sangat suka menjahili perempuan. Pernah suatu ketika temanku bernama Ira digangguinya sampai menangis di kelas. Dengan menatap mantap, tepat di depan wajah Ira, dengan gaya layaknya seorang penyair yang sedang membacakan puisi, Pak Odik berucap lantang, “Bagaimana bila bapak adalah seorang pencuri! Perampok! Garong! Pendosa! Pemerkaos!” 
Aku tahu Pak Odik hanya bercanda, tetapi air mata Ira perlahan menetes. Gurat wajah Pak Odik yang sebelumnya cengangas-cengenges, berubah menjadi panik luar biasa dan langsung berusaha coba menenangkan Ira. Aku juga tak terlalu paham mengapa Ira menangis. Entah tersayat dengan kata-kata lantang pria itu atau memang mengira Pak Odik adalah seseorang yang sungguh-sungguh berprofesi sebagai yang diucapkan tadi. Aku tak tahu. Aku cuma tertawa geli melihat kejadian itu. 
Tetapi kadangkala ia juga bisa beringas bukan main. Pernah suatu ketika ia sedang mengajar Penjaskes kelas 5A di lapangan. Aku dan teman-temanku yang bukan murid 5A melihat mereka dari gedung lantai dua, bersiap turun karena memang sudah waktunya jam istirahat. Temanku bernama Giri berujar pelan padaku, Gilang, dan Anggit, “Tuh, botak kontol.”
Tanpa otak Anggit langsung berteriak ke bawah sambil menunjuk-nunjuk Giri, “Paaak!! Dikatain Giri BOTAK KONTOOLL!!”
Tak ada bapak-bapak lain di situ kecuali Pak Odik dan tentu saja ia merasa teriakan Anggit itu ditujukan olehnya.
Pak Odik sontak menengok ke atas dengan tatapan ingin menghancurkan. Dan demi Tuhan, yang terjadi selanjutnya adalah ia segera berlari meninggalkan anak-anak 5A dengan kecepatan yang gila, menaiki tangga ke arah kami yang ada di lantai dua!
Dalam sekejap Pak Odik sudah berada di depan kami. Aku panik tentu saja. Yang dilakukan Pak Odik selanjutnya adalah menampar keras pipi Giri, melayangkan tendangan membabi buta, beringas dan brutal. Dan ketika Pak Odik selesai melancarkan aksinya itu, hanya sepersekian detik saja ia langsung menyodorkan tangan kanannya agar disambut oleh tangan kanan Giri seraya mengucapkan, “Bapak minta maaf.”
Hanya berselang satu detik, lagi-lagi Anggit berceletuk, “Gilang juga, pak!” Pak Odik segera memutar badannya ke kiri dan tak dinyana menampar jahanam Gilang. Gilang yang amat kaget ditampar itu tak dapat menahan kekagetannya dengan segera mengeluarkan kata “anjing” setelah tangan Pak Odik bergerak begitu cepat ke pipinya. Lagi-lagi Pak Odik langsung menyodorkan tangan kanannya agar disambut oleh tangan kanan Gilang seraya mengucapkan, “Bapak minta maaf.” Ia tahu, ia harus minta maaf. Ia tentu memikirkan akibat yang sangat buruk jika telah menghajar anak murid tetapi tidak minta maaf.
Yang mencekam adalah, aku tak ingat Gilang memaki Pak Odik dan jika Anggit tiba-tiba berkata “Adit juga, pak,” maka aku berada dalam masalah sangat besar dan aku besumpah akan menyumpal mulut Anggit dengan sandal. Untungnya hal itu tak terjadi. Anggit kemudian bertanya kepada Giri akan kondisinya apakah baik-baik saja, sambil tertawa tentunya, yang segera dibalas Giri dengan acungan jari tengah sambil mengusap-usap pipinya dengan menangis bercampur tawa. Tai. Itu betul-betul menit paling surreal selama aku bersekolah.

***

“Yak cukup latihannya, sekarang bagi tim lima-lima.”
Ah, inilah saat-saat yang kami nanti. Sebetulnya alasan kami mengikuti ekstrakurikuler sepakbola ini hanyalah untuk bermain sepakbolanya saja, bukan untuk mempelajari teknik-teknik sepakbola. Pak Odik pun juga sepertinya tahu alasan kami mengikuti ekstrakulikuler.
“Langsung main aja, pak. Enggak usah latian!”
“Enggak. Kalian gimana mau menang di kejuaraan kalo ngoper aja belom becus.”
   

***

Tim yang berisi banyak kakak kelas pun dengan gagah bisa kami kalahkan. Ya, tim kami yang banyak berisi kelas 5 lebih kuat dari mereka yang kelas 6. Saat kami bermain, Pak Odik mewasiti kami.
Tapi bila kebiasaan menjahili perempuannya sudah keluar, akan tampak menjadi pemandangan yang sedikit berbeda. Teman perempuanku, Mayang, yang memang pulang agak sore, berjalan melewati pinggir lapangan, menuju ke pagar sekolah karena sudah dijemput ibunya yang mengendarai Peugeot 206 berwarna merah. Saat masih dalam langkah Mayang yang hati-hati, Pak Odik berteriak dengan manja dan penuh harap,
“Mayang mau pulang?? Bapak anterin yaa??”
Mayang mempercepat langkahnya. Kami pun hanya tertawa dan Pak Odik kembali meniup peluit.

***

Peluit panjang ditiup. Suara yang dihasilkan peluit tiupannya betul-betul nyaring dan amat mirip atau mungkin sama dengan suara peluit wasit yang biasa kami lihat dan dengar di televisi. Padahal sore itu ia cuma memimpin pertandingan anak didiknya sendiri. Ia memang selalu total.
Pedagang-pedagang makanan dan minuman di luar pagar sekolah satu persatu mulai membereskan dagangannya dan pulang. Anak-anak kampung yang memang setiap sore menggunakan lapangan sekolah kami untuk bermain bola, sudah berdatangan. Baru saja ada dua anak kampung yang dimasukkan Pak Odik ke dalam tong sampah besar di dekat pohon kelapa karena mereka tak sabar ingin bermain dan masuk ke sekitaran lapangan. Selain tak suka dihina, ia tak menyukai ketidakdisiplinan.

***

Senja mulai menguasai hari. Sebelum menyudahi acara ekstrakurikuler hari ini, Pak Odik memberikan masukan dan wejangan atau apa saja, agar semakin hari kemampuan kami bermain semakin mengkilap. Ia duduk di kursi yang terbuat dari beton di pinggir lapangan, sementara kami duduk bersila di tanah. Sambil mengulum satu buah jeruk yang telah dikupas yang dimasukkan langsung satu buah ke dalam mulutnya, Pak Odik terlihat berwibawa di depan anak-anak ekstrakulikuler di bawah cakrawala menyemburat oranye yang menambah syahdu kekhidmatan. Sebuah kharisma yang hanya sanggup dikalahkan oleh Bung Karno.
Belum sempat ia menyudahi wejangannya, ekor matanya melihat sesuatu di ujung koridor dekat lapangan di bawah aula. Dua orang berjalan, bergandengan tangan. Itu Bu Fitri, guru mata pelajaran Al-Quran beserta anak perempuannya yang masih kecil. Ah, suasananya sudah sangat takzim, amat disayangkan jika Pak Odik tiba-tiba kumat karena ada perempuan muncul. Bu Fitri memang cantik.
Tetapi mungkin kali ini Pak Odik berpikiran sama denganku. Ia tak ingin momen penuh wibawa pada senja ini luntur dan pudar hanya karena menggoda wanita. Sekelebat berdesir rasa banggaku pada Pak Odik karena bisa sejenak menahan egonya, yang sebenarnya aku tahu, ia menahannya sekuat tenaga karena sangat hafal dengannya.
Lalu dengan mata yang mengarah ke Bu Fitri dan anaknya itu, Pak Odik berujar dengan suara pelan kepada kami,
“Anaknya lucu, ya.”
“Iya, pak, lucu."
“Apalagi ibunya.”




Bekasi, Jakapermai.
2003

No comments: