Saturday, June 16, 2012

Dinamika Dunia Lawak di Indonesia




Ayah saya adalah penggemar berat Srimulat. Mungkin juga hanya menyukainya secara biasa saja atau hanya sekadar menonton di televisi tanpa ada keterikaatan perasaan yang lebih dalam. Tetapi saya asumsikan ia adalah penggemar berat grup lawak legendaris tersebut, karena hampir tiap malam ketika saya masih kecil, ia pasti menyempatkan diri untuk menonton Srimulat yang tayang di televisi. Saya pun tak pernah menanyakan seberapa “nge-fans” ia dengan grup lawak tersebut. Tetapi yang pasti, ruang tengah keluarga saya selalu “ger-geran” karena acara komedi itu. Kebetulan ayah saya pun berteman baik dengan Kadir, salah satu personel Srimulat, karena rumah kami yang berada satu komplek. Otomatis karena seringnya aktivitas menonton tadi, saya pun kadang ikut “ger-geran” melihat candaan yang dibawakan oleh Srimulat.

Tentu saja saya—atau mungkin ayah saya—hanya melihat karier mereka melalui kotak kaca tersebut setelah Srimulat ngetop, tidak pada awal perjuangan saat bagaimana mereka harus berkeliling dari satu pasar malam ke pasar malam lainnya seperti pada awal-awal mentas. Itu pun saya tonton setelah ketika Srimulat sempat bubar pada tahun 1989, sebelum akhirnya mereka reuni lagi dan tampil di Indosiar. Tetapi yang saya yakin tak berubah ditambah melihat video-video lawasnya, dagelan yang mereka bawakan tetap beraroma Jawa Tengah pada saat mereka masih berkeliling—mungkin karena faktor itu pula yang membuat keluarga saya begitu menyukainya. Bahkan ketika keluarga kami pada saat lebaran dan pulang kampung ke Yogyakarta misalnya, keluarga besar kami malah nonton bareng acara tersebut di rumah almarhum kakek saya.

Ketika saya yang sudah tumbuh besar ini mencoba mengingat-ingat lagi dan mencoba membuka beberapa literatur tentang grup lawak legendaris itu, saya langsung setuju dengan feel yang muncul, yang dulu sempat saya rasakan pada dagelan Srimulat. Dalam guyonan yang mereka bawakan terdapat corak khas, seperti sifat ketradisionalan mereka yang kental, seperti perwujudan sebuah subkultur jawa dengan patron yang antik.

Yang saya ingat lagi, Srimulat pasti menggunakan set ruang tengah keluarga, yang juga pembahasan atau dagelan yang mereka bawakan kebanyakan berpusar pada masalah keluarga. Selalu ada seseorang yang membawa serbet di bahu, yang berarti ia tengah memerankan peran sebagai pembantu rumah tangga. Selalu ada seseorang yang membaca koran dengan serius di ruangan itu, yang berarti ia tengah memerankan peran sebagai ayah di dalam keluarga.

Lewat televisi atau media lainnya, mereka—juga dengan grup lawak lainnya—berusaha membuat penonton ha-ha-hi-hi, di tengah pemerintahan orde baru yang kuat dengan warna kepemimpinan yang kadang membuat gelisah. Pada keadaan yang tak bebas dan tertekan itu masyarakat dibuat senyum. Tetapi Srimulat dapat lebih bernapas lega—beda dengan Warkop misalnya—karena selain guyonan mereka yang hampir tak pernah menyerempet dengan masalah politik, mereka sendiri pun dekat dengan kalangan militer Indonesia. Di web resmi Srimulat disebutkan bahwa Almarhum Triman pernah bertugas sebagai Sersan Mayor di Kodam V Brawijaya Surabaya. Tessy juga pernah menjadi seorang Marinir KKO yang ikut dalam pembebasan Irian Barat di era 60-an, dan Pak Bendot pernah menjadi seorang tentara. Apalagi Srimulat sering diundang untuk Presiden Soeharto saat itu untuk bermain di Cendana.

Lawak Zaman Dahulu
Frans Sartono dalam buku Main-main Jadi Bukan Main mengelompokkan Srimulat sebagai grup lawak golongan lama yang sering melontarkan lawakan yang berangkat dari kegagapan sosial. Ia beranggapan, lawakan yang berangkat dari kegagapan sosial itu masih banyak dilontarkan pelawak dan masih banyak yang tertawa. Masalahnya, sampai kapan tawa itu terdengar di tengah kondisi masyarakat yang berubah cepat.

Pada generasi saya (sering disebut milenials) mungkin hanya sedikit yang mengenal Basiyo, Kwartet Jaya, Bagyo, dan Srimulat. Saya termasuk di dalamnya. Saya hanya mengenal Srimulat di era yang bisa dibilang era terakhir bagi mereka, dan untuk grup lainnya, saya hanya tahu nama dan foto—tak lagi melihat mereka aktif manggung. Tetapi memang belakangan saya coba mengunduh rekaman suara Basiyo yang diupload para penggemarnya lewat dunia maya.

Mengenai pola pembawaan dagelan, Mamiek Prakoso dalam suatu wawancara yang saya lihat di televisi pernah mengatakan, Srimulat mau tak mau harus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman agar tak tergilas dengan roda zaman itu sendiri.

Pada Main-main Jadi Bukan Main, Tarzan, yang juga salah satu anggota Srimulat, mengaku harus banyak belajar mengenal segmen penonton baru. Pelawak yang berangkat dari kultur tobong-bedeng yang digunakan untuk pertunjukan tradisional harus berhadapan dengan panggung yang lebih besar bernama televisi yang berskala nasional. Masalah sosial ekonomi dan kultural dari masyarakat agraris yang biasa menjadi bahan guyonan di pentas lawak tradisional kini hanya menjadi bagian lawakan. Mereka harus melakukan transformasi materi lawakan agraris untuk masyarakat industri modern yang lebih kompleks. Ia menyadari keterbatasan pendidikan formalnya, dan untuk itu dia terbuka terhadap hal baru. Misalnya dengan banyak membaca berita tentang berbagai aspek kehidupan. Membaca berita masalah hukum atau kedokteran, baginya akan berguna sebagai pengetahuan pribadi, selain bisa juga menjadi amunisi di pentas lawak. “Kami memang dituntut untuk belajar dari keadaan ini. Tapi, pada akhirnya yang bisa menghasilkan tawa itu adalah mereka yang tanggap dengan situasi. Kami yang berasal dari pelawak tradisional ini menang di jam terbang yang terlatih untuk tanggap. Saya misalnya, sering berlagak sok pinter tapi keliru dan gerr..,” kata Tarzan. Jam terbang dan bakat diperlukan. Akan tetapi menurut Us Us, untuk menghadapi industri hiburan yang terus berkembang, pelawak harus mau banyak belajar soal ilmu pemanggungan. Spontanitas, kata pelawak dari grup D’Bodor itu, tetap diperlukan karena tanpa kemampuan tersebut pelawak akan terlihat kaku, tidak responsif dengan reaksi audiens. “Pelawak juga perlu naskah, agar tidak stagnan dan terhindar dari pengulangan materi. Kita gabungkan naskah dengan kemampuan improvisasi.” (Sartono, 2010: 246)

Setelah sempat mati suri, kini memang Srimulat kembali bisa kita saksikan di Indosiar. Tetapi yang saya rasakan—walaupun kadang saya tetap ngakak—atmosfer khas dari Srimulat yang dulu saya tonton amat jauh berkurang. Seperti ada nuansa yang banyak hilang dalam guyonan-guyonan mereka. Beberapa personil Srimulat pun banyak kita temui berkarir secara personal. Contonya Tukul Arwana yang beberapa tahun terakhir menjadi host fenomenal acara Empat Mata yang kemudian berubah nama menjadi Bukan Empat Mata. Nunung Srimulat juga kini aktif bermain dalam Opera van Java yang hampir tiap malang tayang di Trans 7 prime time. Mungkin juga nuansa-nuansa yang hilang yang saya rasakan itu timbul lebih karena saya tak menyaksikannya lagi dengan orang tua, karena situasi yang berubah cepat. Saya sudah tumbuh besar dan menuntut ilmu di negeri orang, orangtua saya juga sibuk dengan pekerjaannya. Zaman melangkah cepat.


Pelawak-pelawak “Intelek”


Kemudian muncul grup lawak legendaris yang disebut Arswendo Atmowiloto pelawak dari “generasi cakep”, Warkop DKI. Berbeda dengan Srimulat, saya mengamati Warkop bahkan setelah Warkop menyelesaikan film layar lebar terakhirnya di tahun 1994. Saat saya masih kecil, saya dan teman-teman menyebut film-film Warkop dengan sebutan “film Dono” dan mengganggap anggotanya (Dono, Kasino, Indro) adalah pemain film dan bukan grup lawak. Tetapi jauh dari sebelum hari ini, saya telah mengoleksi hampir semua rekaman panggungnya entah itu ketika mereka tampil di radio Prambors—dulu disebut Warkop Prambors—atau rekaman saat mereka tampil di panggung. Sebutan pelawak “generasi cakep” oleh Arswendo itu lebih karena sisi penampilan. Akan tetapi, materi lawakan sebagian masih menyisakan bau agraris warisan generasi Srimulat.

Warkop sering disebut sebagai grup lawak intelek. Bisa jadi karena mereka adalah kelompok yang terbentuk di kampus elit Universitas Indonesia, barangkali juga karena hanya pengaruh wibawa kampusnya. Wahjoe Sardono alias Dono adalah asisten Selo Soemardjan, guru besar yang amat dihormati. Nanu dan Kasino pun mahasiswa Fakultas Ilmu-ilmu Sosial UI, sedangkan Rudi Badil anak Antropologi FS UI. Berbeda dengan rekan-rekan lainnya, Indro adalah mahasiswa Universitas Pancasila.

Tetapi jauh sebelum Warkop menikmati ketenaran, grup ini sebetulnya hanya grup yang doyan genjrang-genjreng di kampus UI ketika ada acara-acara seperti naik gunung, perpeloncoan, atau acara-acara kampus lainnya. Dari musiklah mereka mengembangkan segala aspek kekreativitasan melawak. Memang dari koleksi saya yaitu lagu-lagu parodi yang mereka bawakan, mereka mengemasnya dengan lucu dengan memelesetkan lirik lagu aslinya menjadi lirik buatan mereka yang ngawur namun mengocok perut. Tidak heran jika akhirnya band-band masa kini seperti Teamlo, Sastromunie dan lain-lain mencomot formula yang sama dalam menghibur masyarakat.

Berbeda dengan Srimulat yang muncul jauh sebelumnya, Warkop saat itu terbentuk di ibu kota yang tengah bergolak setelah masa peralihan politik yang amat penting dari Orde Lama ke Orde Baru. Menurut saya, ketika mereka yang masih mahasiswa itu dan sedang lincah-lincahnya berkreasi lalu mendapatkan keadaan yang penuh tekanan dari pemerintah, hal itu justru akan menimbulkan kekreativitasan yang muncul dari sempitnya ruang, dan ternyata dahsyat. Mereka seperti melawan langsung pemerintah yang beringas dengan menggunakan satir politik bukan untuk berhadapan langsung, tetapi untuk menyindir halus, dengan cara yang tak langsung.

Seperti yang dikatakan Budiarto Shambazy (2010: xxiv) satir politik berbeda dengan protes politik, karena tidak harus mempunyai agenda-agenda tertentu untuk mempengaruhi proses politik. Tujuannya semata-mata hanya menghibur, sekalipun terkadang satir yang ditawarkan sesungguhnya memiliki makna yang sejatinya dapat mempengaruhi proses politik tersebut. Penguasa yang dikritik biasanya tidak gerah dengan satir politik, temasuk Orde Baru yang sering menjadi obyek satir-satir politik Warkop ketika mulai merambah ke media elektronik.

Dalam Main-main Jadi Bukan Main, disebutkan satir-satir politik yang sering dibawakan Warkop seperti contohnya memelesetkan makna ucapan-ucapan Presiden Soeharto atau Jendral Ali Murtopo dengan bahasa Jawa yang amat kental alias supermedhok. Atau juga mengguyonkan pengumuman pemerintah tentang “penyesuaian” (makna sebenarnya kenaikan) harga BBM atau sembilan bahan pokok. Disebutkan, Warkop juga meniru gaya Menteri Pertambangan Subroto yang memang bergaya unik (antara lain selalu memakai dasi kupu-kupu) karena mengumumkan kenaikan harga BBM sembari tertawa-tawa di layar TVRI. Orisinalitas satir Warkop yang lain contohnya mempopulerkan kalimat khas Pak Harto “jika rakyat menghendaki” menjadi metafora politik yang dipakai untuk menyindir kekuasaan Orde Baru yang sesungguhnya justru kerap tidak mengikuti kehendak rakyat.

Tetapi tetap bagi saya, ajang paling efektif Warkop dalam menyampaikan satir politik adalah melalui musik. Hal tersebut jugalah tonggak awal mereka yang tadinya hanya kumpul-kumpul menjadi terkenal. Bahkan lagu yang bisa dikatakan lagu wajib bagi Mapala, Siborong-borong, adalah ciptaan Nanu. Bakat bernyanyi Kasino yang sanggup meniru gaya bernyanyi etnis tionghoa, jawa, sunda, dan lain-lain, amat apik dan mengocok perut.

Saya jadi berusaha mengingat-ingat, grup mana yang sanggup mengalahkan ketenaran Warkop karena mangkal di radio, ngobrol dengan luwes dan ceplas-ceplos namun tetap dengan dialog-dialog intelektual bergaya kampus, lalu terkenal. Saya sulit mengingatnya. Jangan lupakan film-film Warkop yang masih diputar hingga kini, apalagi ketika lebaran tiba dan layar kaca kita pasti dinostalgiakan dengan film-film mereka. Budiarto Shambazy dalam Main-Main Jadi Bukan Main mengatakan jika dibandingkan dengan Srimulat yang sudah lebih dulu mapan, model Warkop relatif lebih “modern”, sebab bahan-bahan lawakan Warkop lebih beragam: kehidupan anak muda, musik, politik, hiburan, seks, gender, ras, dan seterusnya. Sedangkan lawakan Srimulat lebih terfokus pada “melucu gaya Jawa”. Maka tidak mengherankan bila diasumsikan bahwa Warkop sesungguhnya telah mengukuhkan diri sebagai pelopor komedi intelektual seperti yang dimaksudkan di atas.


Batu Lompatan dan Hiburan Masa Kini



Pada tahun 90-an di Jabodetabek, Radio Suara Kejayaan sangat happening karena radio ini berkecenderungan sebagai radio komedi yang amat digemari banyak masyarakat. Radio ini memang sekitar sudah ada tahun 60-an, namun baru pada sekitar 90-an suaranya nyaring terdengar. Warkop yang sudah mentereng namanya itu pun pernah ikut siaran di Radio ini. Bahkan Radio SK sendiri sering diplesetkan namanya menjadi Radio Senyum dan Ketawa.

Radio SK adalah batu lompatan nyata bagi beberapa pelawak yang masih eksis bahkan setelah radio itu bubar karena kondisi keuangan negara amat buruk tahun 1999. Radio SK mempopulerkan banyak nama pelawak dan musisi seperti Bagito, Patrio, Kiwil, Mucle, Yadi, Ulfa Dwiyanti, Tukul Arwana, Temon, Abdel, Taufik Savalas, Harry De Pretes, Nugie, Ridho Slank, Denada, bahkan hingga Ricky Jo dan Alfito Deanova yang kini masih eksis namun jauh dari hingar bingar komedi.

Setelah Radio SK bubar dan peralihan manajemennnya diberikan pada Hard Rock FM, lulusan-lulusan Radio SK ini tercium bakatnya oleh banyak stasiun televisi. Pelawak yang ketika masih menjadi penyiar Radio SK namun juga sudah sering tampil di televisi nasional mungkin barangkali tak pusing-pusing amat dengan bubarnya Radio SK. Contohnya seperti Patrio yang digawangi oleh Parto, Akri, dan Eko. Kita saksikan sendiri bagaimana acara Ngelaba saat itu sangat ngetop, dan saya pun selalu menantikan acara itu tiap pekan. Bahkan Ngelaba mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) karena sanggup tetap eksis sebagai program top komedi selama 13 tahun. Komeng juga setelah keluar dari Diamor makin tenar dengan program usilnya yaitu Spontan, bersama Kiwil, Yadi, Ulfa Dwiyanti, dan Septian Dwi Cahyo.

Tukul Arwana yang juga penggawa Srimulat pun kini menjadi presenter program Bukan Empat Mata yang sudah beribu-ribu episode, dan menjadikannya sebagai host dengan bayaran yang tinggi. Abdel dan Temon juga punya acara komedi situasi di Global TV bernama Abdel Temon Bukan Superstar, dan keduanya kini sering tampil menjadi comic di acara-acara stand up comedy. Denada memilih untuk melanjutkan karirnya sebagai penyanyi dan Ridho Slank kini menjadi gitaris salah satu band rock papan atas Indonesia, Slank. Ricky Jo memilih menjadi host acara olahraga dan Alfito Deanova kini sering kita lihat menjadi presenter berita di Tv One.  

Di luar Radio SK, kontes-kontes hiburan juga menjadi salah satu pencarian bibit yang menghasilkan pelawak-pelawak mumpuni. Audisi Pelawak TPI misalnya menghasilkan Sule dari grup SOS yang kini mentereng dengan program Opera Van Java-nya. Cagur yang personilnya terdiri dari Denny, Narji, dan Wendy kini juga ngetop lantaran mengikuti kontes yang dinilai oleh Komeng dan Ulfa Dwiyanti. Cagur pertama kali eksis di televisi lewat program Chatting: Canda Itu Penting di TPI yang mempunyai konsep mirip dengan Ngelaba.

Dengan menyabet sebagai program komedi terbaik selama dua tahun terakhir di Panasonic Gobel Awards, tentu program Opera van Java (OVJ) yang tayang di Trans 7 tak bisa disangkal lagi sebagai program komedi yang paling digandrungi saat ini. Saya ingat ketika pertama kali menyaksikan acara Opera van Java (OvJ) diawal-awal program itu berjalan, OvJ hanya tayang satu hari dalam seminggu. Namun secara perlahan-lahan, OvJ kini tampil enam hari dalam seminggu, seiring dengan ratingnya yang terus naik dan makin disesaki iklan. Bahkan Trans 7 pada hari minggu menampilkan acara Pas Mantab, yang tiga presenternya adalah pemain Opera van Java.

Opera van Java sendiri dapat dikatakan sebagai pioneer acara program hiburan saat ini yang teknik mengisi acaranya menggunakan improvisasi tanpa menghafal naskah sebelumnya. Program hiburan tanpa naskah ini kemudian diikuti oleh Pesbukers di Antv dan Comedy Project di Trans Tv. Bedanya, Opera van Java tetap mempertahankan ciri khasnya menggunakan dalang yang diperankan oleh Parto, sebagai pemandu cerita, dan para sinden yang biasanya menyanyikan lagu-lagu pop yang “dijawakan”. Para wayang-wayangnya tersebut diisi oleh Sule, Nunung Srimulat, Andre Taulani (mantan vokalis grup band Stinky) dan Aziz Gagap. Ciri khas lainnya adalah—ini yang paling saya suka di awal-awal OVJ tayang—Opera van Java mengangkat cerita-cerita legenda yang sangat populer di masyarakat Indonesia.

Kepada Kompas edisi Minggu, 7 Desember 2008, kepala Departemen produksi Trans 7, Andi Chairil, mengatakan, “Konsepnya memang pewanyangan. Ada dalang, sinden, gamelan, dan wayang orangnya yang diperankan dengan pemain tetap dan bintang-bintang tamu. Tapi ceritanya enggak harus cerita rakyat dari Jawa. Yang menarik dalam acara ini adalah setiap cerita yang akan dimainkan hanya diketahui Parto, sang Dalang. Setiap cerita yang dimainkan akan kami kemas dengan cara kekinian. Jadi tidak menafikkan kalau cerita luar seperti Pinokio akan ada pada salah satu episode.”

Tetapi terlepas dari kegemerlapan hiburan masa kini yang amat menjanjikan dan mempunyai banyak segmen-segmen yang dapat dimanfaatkan, saya malah merasa dunia hiburan jalur lawak di Indonesia berubah menjadi bising, gaduh, dan membuat saya agak risih. Satu dua kali saya tertawa, tetapi kemudian—mungkin juga karena faktor frekuensinya yang liar dan tak menimbulkan rasa kangen—saya merasa lawakan terkini memang kualitasnya kurang dibanding pada tahun 90-an atau 2000-an awal. Dulu kita kerap disuguhi tema-tema kritik sosial yang tajam, masalah keluarga, atau ideologinya yang jelas. Tetapi yang saya lihat kini dunia lawak negeri ini hampir kehilangan jati dirinya. OvJ kini mulai membosankan karena dipenuhi dengan “jatuh-jatuhan”, “pukul-pukulan” dengan styrofoam, atau jokes-jokes garing dan sarkas yang mengganggu. Ini juga didukung dengan rating OvJ yang walaupun masih dalam jajaran kelas atas, sudah jarang menempati rating nomer satu menurut survei yang dibuat oleh vivanews.com sampai maret 2012. Rating OvJ kerap tergeser oleh Tendangan Si Madun, Fathiyah, Putih Abu-abu, Karunia, Cintaku Full Enggak ½ Setengah, atau Shaun The Sheep.

Saya angkat topi dengan kelompok-kelompok yang sekarang tengah menyemarakkan acara-acara stand up comedy atau komedi tunggal yang memunculkan pembaruan di tengah era lawak yang garing di negeri ini. Stand up comedy juga seperti mengajarkan kepada masyarakat untuk menjadi masyarakat yang tidak cepat sensi. Stand up comedy juga mengangkat dan menyadarkan bahwa di sekeliling kita banyak hal aneh, rahasia umum yang kerap membuat kita menganggukkan kepala setuju. Bahkan kini sudah dua televisi yaitu Metro TV dan Kompas TV yang rutin menanyangkan acara yang bisa dibilang hiburan alternatif bagi kita yang merasa risih dengan jalur lawak mainstream. Semoga dunia hiburan khususnya dunia lawak di Indonesia ini sanggup makin berkualitas seiring dengan cepatnya zaman bergerak.

Program Anak Bawang yang Digandrungi




Ketika dunia pertelevisian—dalam jalur reality show—di Amerika Serikat tengah berada pada kejenuhan yang mengambang, beberapa tim yang terdiri dari produser gendut kaya, Mr. Whitaker (Rob Reiner), broadcast director bervisi jeli Cynthia Topping (Ellen DeGeneres), dan beberapa orang lainnya, berusaha melakukan sesuatu untuk menggairahkan jalur itu lagi. Langkahnya adalah, membuat reality show dengan merekam kehidupan seseorang dengan jujur, dengan apa adanya, tanpa naskah, tanpa intervensi, tanpa privasi—kecuali ke kamar mandi—dari orang itu bangun tidur hingga ia tidur lagi.

Di proses pencarian sang pemeran, dengan mata penuh kagum, Chynthia mendengarkan Ed Pekurny bercerita tentang kepemudaannya, berjoget dengan gaya ayam yang mengepakkan sayapnya, dan berbagai hal lain yang membuat Chynthia merasa pemuda ini akan disukai oleh penonton. Semula tentu saja Mr. Whitaker, bosnya, mengerenyitkan dahi melihat kelakuan Ed dari video yang diperlihatkan Chynthia. Tetapi akhirnya Mr. Whitaker manut.

Ed Pekurny (Matthew McConaughey), karyawan sebuah toko kaset, pemuda biasa dari San Francisco itu tiba-tiba saja kecebur dalam ketakjuban: semua orang di sekitarnya meneriaki namanya, mamanya (Sally Kirkland) jadi sering dandan, juga kakaknya yang nyeleneh, Ray (Woody Harrelson) jadi sering numpang tampang di kamera, atau bahkan ia akhirnya dapat bertemu dengan ayah kandungnya yang telah lama berpisah sejak kecil.

Bagaimana Ed Pekurny bisa seberuntung itu, hanya Tuhan dan cahaya lampu San Francisco yang bisa menjawab. Peristiwa sinting itu semula mengguncangnya. Dia ingin membaginya dengan Shari (Jenna Elfman), kekasihnya yang sederhana, kaku, perempuan yang ingin dikejar-kejar itu. Tetapi Shari lebih terpesona pada Ed yang dulu, lantaran kehidupan Shari dahulu tak terekspos media. Ia malas ketika ia tengah menjalankan profesinya sebagai pengantar barang ke suatu rumah tiba-tiba diceramahi ibu-ibu cerewet yang mengatakan bagaimana seharusnya menjadi pacar Ed yang baik. Sejak awal kita tahu hubungan mereka akan sulit, bahkan menjemukan—dengan sikap Shari yang tak luwes.

Ed, seperti juga para pemuda San Francisco lainnya, adalah lelaki yang apa adanya, slengean tapi menyenangkan, yang sikap dan perilakunya mengalir begitu saja seperti air. Mendapatkan bayaran yang besar, dielu-elukan namanya di sebuah pertandingan hockey, adalah mimpi yang tak terpikirkan sebelumnya. Bahkan bertemu dengan seorang model cantik bernama Jill (Elizabeth Hurley) yang selalu membuka pintu apartemennya kapan saja ketika Ed ingin berkunjung. Hubungan asmara Ed dan Shari terseok-seok menuju jurang.

Ed percaya ia adalah pria yang baik. Tetapi dengan sedikit saran dari Chynthia, ada baiknya bila ia sejenak melupakan Shari dan menikmati hubungan tak seriusnya dengan Jill. Jill memanfaatkan Ed dengan menjadikan ia sebagai alat pendongkrak karir, Ed dan para sebagian penonton pun tak keberatan dengan sosok Jill yang kita sama-sama tahu tadi, dan juga karena ia cantik dan tak neko-neko. Bagi penonton, kehidupan Ed adalah kehidupan yang menyenangkan dan tentu saja kocak.

Bagi Ed, tak pernah ada yang klise tentang menjadi terkenal. Semula ia tak ingin pergi dari sana. Kakinya terus bergerak seperti para penggemar yang mengejarnya. Tetapi lama-kelamaan akhirnya Ed pening juga. Bukan karena capek karena selalu harus diikuti oleh sepasukan kameramen, tetapi karena kerisihan orang-orang yang disayanginya, yang berbeda dengan jalan pikirnya, berbeda kadar kenyamanannya. Shari, ibunya, ayah tirinya, dan kakaknya, lewat sebuah kontrak dari True TV yang tak begitu dipahami Ed, kini terusik.

Ed tak bisa meninggalkan begitu saja pekerjaanya karena sudah terikat kontrak. Namun lewat sebuah cara yang cerdik, akhirnya ia menemukan cara yang akhirnya membuat si bos gendut Mr. Whitaker terpaksa membubarkan acara itu.

Menyaksikan film ini, tentu saja kita akan langsung teringat dengan film serupa—yang jauh lebih fenomenal—yang setahun lebih dulu ada sebelum Edtv diproduksi, berjudul Truman Show, yang peran utamanya dilakoni oleh Jim Carrey. Bedanya, Truman (Jim Carrey) tidak mengetahui bahwa sejak lahir sampai dewasa, ia adalah pemeran sebuah acara tersebut. Orang-orang di sekitarnya, istrinya, bahkan kota tempat ia tinggal adalah palsu dan Truman tak tahu bila seluruh orang di dunia ini menyaksikan dirinya.

Dalam tim yang terdiri dari Mr. Whitaker dan Chyntia serta para awak lainnya, program merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam kegiatan manajemen produksi televisi. Reality Show adalah salah satu program di televisi yang menarik minat masyarakat. Maraknya penayangan program reality show di televisi menimbulkan berbagai dampak bagi masyarakat. Di beberapa bagian scene Edtv, ditampilkan adegan talkshow yang membahas reality show yang dilakukan True TV. Seorang narasumber mengatakan bahwa program itu tidak baik, kurang pantas, dan kalimat-kalimat negatif lain semacamnya.

Menurut saya, berdasarkan dari beberapa literatur yang saya pahami, jika dihubungkan dengan teori kultivasi dan teori pembelajaran sosial, akan terdapat tiga dampak pada pesan media massa, yaitu dampak kognitif, dampak afektif, dan dampak behavioral. Dalam dampak kognitif, pesan pada program Edtv dalam Edtv menggambarkan realitas pemuda San Francisco kebanyakan saat itu, yaitu mendapatkan gaji yang pas-pasan, slengean, masih hidup bersama orangtua, dan lain-lain.

Dalam dampak afektif, pesan yang disampaikan pada program Edtv dalam Edtv berpengaruh pada perasaan emosional mereka. Seperti kubu yang selalu mendukung kesederhanaan Shari, dan bagaimana Ed selalu berusaha untuk mengejarnya. Lalu kubu yang selalu gembira ketika melihat Ed bersama Jill si model cantik, karena tak tahan dengan Shari yang menurut mereka memuakkan. Bagaimana perselisihan Ed dengan Ray kakaknya yang merasa dikhianati lantaran diambil pacarnya—sampai-sampai Ray mengeuarkan sebuah buku berjudul My Brother Pissed On Me. Belum lagi perasaan emosional penonton ketika mengikuti prahara ibunda Ed, ayah kandung, dan ayah tirinya yang memilukan. Perjalanan cinta dan pengkhianatan yang panjang, yang akhirnya terungkap dan terjawab dan bagaimana Ed sendiri menyikapi itu. Bahkan Chyntia dan kawan-kawan pun sampai menitikkan air mata. Tanpa sadar khalayak ikut merasa sedih, terharu, dan iba melihat kehidupan Ed. Tetapi juga amat senang ketika Ed tengah melakukan kekonyolan-kekonyolan khas yang sering ia lakukan.

Dalam dampak behavioral, pesan pada program Edtv dalam Edtv tidak langsung berpengaruh pada perilaku penonton di kehidupan sehari-hari. Melalui program ini mereka bisa belajar dari pengalaman hidup Ed yang berasal dari kalangan yang biasa-biasa saja. Secara umum, dampak pesan media pada program Edtv dalam Edtv yang paling berpengaruh pada penonton adalah dampak kognitif. Karena melalui program Edtv dalam Edtv, mereka mengetahui keadaan masyarakat Amerika, khususnya San Frascisco sekitar yang di dalam diri pemudanya yang kerap ceria namun slengean, terdapat juga hal-hal berat yang harus ia hadapi.

Coba kita lihat stasiun televisi kita yang amat banyak menyuguhkan program-program reality show. Saya merasakan dan juga berdasarkan pengalaman beberapa teman yang terjun langsung dalam bidang itu, acara reality show kebanyakan jauh dari nyata dan penuh kepalsuan. Saya mempunyai teman yang pernah dibayar untuk menjadi pemeran sebuah acara reality show. Acara tersebut premisnya adalah penginvestigasian diam-diam seseorang, karena seseorang tersebut ditengarai kerap berbohong/tak transparan dalam perjalanan kisah kasihnya dengan si pelapor. Alhasil lewat permintaan pelapor itulah, tim kemudian melakukan penginvestigasiannya, yang mana berarti acarapun dimulai. Teman saya mengatakan, acara tersebut dilakukan dengan penuh naskah dan kemampuan akting belaka, tetapi dibuat dengan gaya yang seperti nyata. Acara reality show jadi tak lagi mengsyikkan karena disusupi kepalsuan, script, dan jauh dari realita itu sendiri.

Full Effect Theory adalah teori di mana audiences (penerima pesan) tidak bisa menghindari peluru yang ditembakan secara tepat sasaran oleh pengelola media. Teori ini bisa jadi menyimpulkan seolah-olah pengelola media lebih pintar dari audiences, sehingga ketika audiences ditembak, mereka tidak mampu menghindarinya. Contoh teori ini berkembang pada perang dunia 1-2 (efek propaganda), dan opini media mampu membangun opini publik secara keseluruhan. Khalayak dianggap pasif dan efek media langsung dan maksimal.

Limited Effect Theory menjelaskan, media menghasilkan efek yang terbatas, karena media bukan faktor tunggal. Audiences bersifat selektif dalam menerima informasi yang diterimanya, antara menerima atau mempertimbangkan bahkan menolaknya. Penonton juga memutuskan melalui media mana ia akan menjalin komunikasinya. Hal ini karena tidak semua orang sama dalam pemanfaatan media. Cooper dan Jahada mengatakan, “Perspektif selektiflah yang jauh lebih menentukan dari pengaruh media massa.”

Di antara dua teori besar di atas, manakah yang akan dipakai dalam melihat reality show? Mungkin dalam beberapa hal keduanya bisa dipakai sekaligus. Trian H.A mengatakan, “Reality show telah menunjukkan kepada kita segala yang sebelumnya kita tidak terlalu mau tahu, yaitu perasaan orang (secara nyata) jika diberikan sesuatu. Kesadaran akhir ini bagi audiences akan mempengaruhi persepsi tentang situasi orang dalam keadaan tersebut. Dari persepsi ini, mereka akan melakukan hal seperti menelan mentah-mentah atau bersikap selektif. Tapi setidaknya, audiences tidak bisa lari atau menghindar dari peluru jika ia menonton reality show. Saat kemudian ia melakukannya, maka akan terjadi benturan antara apa yang benar, apa yang kita anggap benar dan apa yang sedang bekerja.”

Dari program Edtv dalam Edtv dan program-program reality show yang ada di negara kita—terlepas dari palsu atau tidaknya—sebetulnya di situ tersirat bahwa terjadi perefleksian kejadian sehari-hari di sekitar kita. Yang bahaya adalah jika pengelola televisi tidak bertanggung jawab atas program yang kurang baik, yang dapat memperparah kondisi budaya bangsa saat ini. Garin Nugroho mengemukakan, “Televisi telah menjadi dunia multikanal dalam hidup manusia. Individu yang menonton televisi tanpa motivasi dan perencanaan sebelumnya lebih gampang untuk melupakan apa yang dilihatnya daripada mereka yang menonton televisi dengan motivasi dan perencanaan.” Bahkan program Edtv dalam Edtv, diceritakan sang pemeran Ed Pekurny mengalami hal yang merugikan dirinya sendiri karena terlalu dimanfaatkan si bos Mr. Whitaker yang sudah terlanjur makin kaya dan tak peduli dengan saran baik anak buahnya.

Terlepas dari teori yang telah dikaitkan di atas, reality show jelas banyak berkaitan dengan teori lainnya pula, seperti entertainment, yang amat jelas dan gamblang fungsinya. Lalu social utility, jika program tersebut amat terkenal dan banyak digunjingkan oleh khalayak, tepatnya di conversational utility. Lalu hegemonic theory, sebagai dominasi ideologi palsu atas realitas yang sebenarnya terjadi secara tersamar dan sangat halus. Atau commercialization, untuk mengarahkan kawan-kawan media ke ‘jalur aman’.

Reality show.. Inilah program yang berhasil meringkus banyak perhatian dunia, bukan saja karena peminatnya yang sungguh banyak, tetapi memang kadangkala—terlepas dari kebenaran atau kepalsuannya—memang cukup asyik, ringan, dan segar untuk diikuti. Tentu saja penggemar reality show yang punya cukup kapasitas untuk menerima, dapat memilah dan merasakan apa dampak yang mereka terima. Edtv, sesungguhnya menurut saya adalah campuran antara sindiran dan parodi. Mr. Whitaker yang tak mau mendengarkan kritik orang lain karena terlalu fokus pada keuntungan itu sungguh persis seperti apa yang kita bayangkan dalam benak kita. Demikian juga Ed yang bersemangat, kenes dan Chyntia yang cerdas dan baik hati.

Penggemar berat reality show mesti hati-hati tentang kenikmatan atau kesedihan yang ada dalam dunia yang bisa jadi rekaan atau benar-benar nyata itu, karena bisa jadi hilang kontrol dan tak lagi sibuk memikirkan realita yang ada dalam dunia sendiri.

Saturday, March 17, 2012

Don Asa di Kota Lara





Teriakan bocah itu menerobos gendang telinga pendengarnya. Penganiayaan yang berlokasi di lantai 14 di sebuah apartemen lusuh dan menyedihkan itu tetap tak dihentikan, walaupun bocah itu sudah meminta ampun kepada orang yang juga masih sama-sama bocah (diketahui, si penganiaya berumur 10 dan 11 tahun). Jelas saja ia tak bisa melawan, lantaran ia baru berusia 5 tahun. Yang terjadi selanjutnya adalah, tiba-tiba ia sudah berada di dasar gedung. Bocah  itu bernama Eric Morse. Seluruh langit Chicago mendadak kelam.

18 bulan sebelumnya, di daerah yang sama, ada dua remaja yang ingin menggebrak kekelabuan gang-gang sempit Chicago dengan cara yang tak lazim dengan menggunakan media radio, dan banyak yang memandangnya tak tepat. Namun hal itu pelan-pelan berubah setelah kasus Eric Morse terjadi.

Dua remaja itu bernama LeAlan Jones (Roderick Pannel) dan Llyod Newman (Brandon Hammond). Mereka tinggal di daerah kumuh Chicago yang kasar, galak, dan sama sekali tak menenteramkan. Tetapi di wilayah hitam itu, mereka termasuk salah dua remaja yang lurus dan baik-baik saja—dibandingkan dengan remaja seusianya. Namun tetap saja, kalimat “"Ketika saya berusia 10 tahun, saya tahu tentang narkoba, seks, dan saya tahu semua jenis pistol,” tetap meluncur luwes dan licin dari mulut Llyod.

Dua remaja ini sangat tidak ingin jadi pecundang. Mereka tidak ingin menjambret, mengedarkan narkoba, atau menembak kepala siapapun. Mereka ingin mengubah nasib dengan memulainya dari hal yang tidak terlalu spektakuler—amat spektakuler bagi yang lain. Mereka mengetahui kabar bahwa National Public Radio (NPR), lewat seorang produser bernama David Isay (Josh Charles), mencari dua orang berketurunan Amerika-Afrika, untuk menjalankan program buku harian audio yang NPR selenggarakan. Nama program tersebut adalah Ghetto Live 101.  Mereka mengikuti audisi tersebut dan dengan kealamian mereka, dengan mudah diterima. LeAlan Jones mengatakan bahwa tidak ada yang lebih cocok menjalankan program tersebut ketimbang mereka.

Tugas mereka susah-susah gampang.  Mereka hanya merekam pembicaraan mereka sendiri dengan amat jujur dengan melihat, mendengar, dan merasakan apa yang mereka terima dari kehidupan mereka dan kehidupan sekitar mereka. Mereka juga melakukan wawancara dengan ibu LeAlan yang sakit mental dan ayah Lloyd alkoholik.  Mereka merekam teman bengal yang yakin bahwa dia tak akan hidup sepuluh tahun lagi, bahkan merekam kenakalan mereka sendiri. Mereka banyak memotret penyakit-penyakit sosial lewat potret suara.

Beberapa mendukung, namun banyak juga yang menentang. Bahkan kepala sekolah kedua anak itu mengumbar hal yang dilakukan dua muridnya tersebut di radio oposisi dan menyebutnya sebagai hal yang menyedihkan. Banyak aral yang menerjang, termasuk dari dalam diri mereka sendiri. Aktivitas sekolah Llyod tetap tak menunjukkan tanda-tanda kenaikan—dari hal positif ini—dan bahkan tidak naik kelas. LeAlan juga mulai terhasut perkataan orang-orang yang menyebut program buku harian audio itu adalah sebuah pemanfaatan kaum kulit putih.  Namun dengan segala upaya yang dilakukan David, mereka berdua akhirnya sanggup meneruskan dan justru makin semangat dengan hal yang mereka lakukan. Puncaknya ketika akhirnya program Ghetto Live 101 membawa mereka sebagai penyiar radio terbaik di Chicago.

Ketika kasus Eric Morse terjadi di Chicago, media-media profesional lain seperti media televisi sibuk menyiarkan berita tentang kasus Eric. Dari tayangan-tayangan televisi yang mereka saksikan, media-media tersebut hanya mengsekpos berita kematian Eric Morse dan pelakunya yang juga sesama bocah, tidak secara mendalam, mengapa, dan bagaimana peristiwa itu dapat terjadi. Mereka gundah dan risih karena media-media itu sebetulnya tidak terlalu paham bagaimana kehidupan di daerah tersebut.

Berangkat dari gobar hati itulah, mereka melakukan investigasi untuk mengusut secara mendalam perihal kasus Eric, dengan bantuan media radio sebagai kendaraan mereka.

Tidak dijelaskan di film ini mengapa LeAlan dan Llyod lebih memilih media radio ketimbang media lain seperti media cetak atau media televisi. Namun lewat adegan-adegan yang tersuguh, karakter mereka berdua memang banyak bicara dan blak-blakan. Kita tahu, dibanding media cetak, media radio memiliki beberapa kelebihan yang tak bisa digondol media cetak.  Keunggulan tersebut di antaranya seperti selintas dengar, penyajian informasinya lebih cepat dan langsung, dan memungkinkan pendengar radio mengembangkan imajinasinya sendiri. Ketika hal-hal seperti itu dikemas secara amat apik (seperti program buku harian audio yang dijalankan NPR), keunggulan media radio ini akan sukar ditandingi.
          
LeAlan dan Llyod sendiri pun bisa jadi memang hanya gemar bercakap-cakap—apalagi mereka adalah sahabat sejak kecil—yang sebetulnya tak terlalu memusingkan hal-hal kejurnalistikan.  Jurnalistik menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti sesuatu yang menyangkut kewartawanan dan persuratkabaran.  Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai radio journalism atau broadcast journalism, yang bisa diartikan sebagai proses produksi berita dan menyebarluaskannya melalui media radio.  Dan lewat program Ghetto Live 101, barangkali tanpa sadar, mereka telah berkembang menjadi jurnalis yang buas, jurnalis yang berkualitas.
           
Radio hanya menggunakan suara, berbeda dengan media cetak yang menyuguhi tulisan dan foto atau media televisi yang menampilkan suara dan gambar. Karena demikian, konsep menyuarakan segala informasi menjadi dasar penyajian sebuah informasi di radio. LeAlan dan Llyod menyuarakan segala kekelabuan yang ada di daerah tempat mereka tinggal. Dan dengan konsep penyuaraan yang baik dan alami, kekelabuan tersebut berhasil diterima dengan amat baik pula ke telinga para pendengarnya. Konversi yang sempurna itu akhirnya berubah menjadi pujian dan cibiran. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang mendukung kegiatan mereka, namun di sisi lain banyak yang menentangnya—karena berbagai faktor, lantaran setiap orang memiliki respon yang berbeda-beda.
        
Naskah informasi untuk radio juga disusun menggunakan bahasa sehari-hari dan bukan bahasa tulisan. Apabila ini dilanggar, sebetulnya pendengaran pemirsa akan amat sensitif merasakan tidak tengah mendengar tuturan, melainkan tengah mendengarkan bacaan. Bahkan dalam program Ghetto Life 101, LeAlan dan Llyod sama sekali tidak menggunakan naskah.
           
Yang dilakukan LeAlan Jones dan Llyod Newman ini termasuk citizen journalism. Memang, dalam Ghetto Life 101 mereka resmi menjadi penyiar radio/wartawan untuk NPR. Tetapi NPR sendiri memang mencari “orang biasa” yang pandai berbicara, khusus untuk program buku harian audio ini. Citizen journalism sendiri adalah konsep yang memungkinkan anggota masyarakat untuk berperan aktif dalam proses mengumpulkan, melaporkan, menganalisa, dan mendistribusikan berita dan informasi. Yang membedakannya dengan bentuk collaborative journalism adalah tidak adanya batasan bahwa peliput berita harus seorang jurnalis profesional, dan inilah hal yang dimaksud NPR untuk program Ghetto Life 101.  Semua anggota masyarakat bisa menjadi bagian di dalamnya.
     
Bentuk citizen journalism yang paling sederhana adalah komentar pada lipuran berita, artikel, foto atau lainnya yang menurut J. D. Lasica disebut dengan audience participation.  MetroTV dan TVOne, stasiun televisi nasional yang menjadikan acara berita sebagai salah satu andalannya, telah menggunakan bentuk ini. Contohnya adalah MetroTV dengan acara Suara Anda. Interaktivitasnya dibangun dengan membuka saluran telepon bagi pemirsa untuk memberikan komentar.

Kontribusi publik amat luas, bukan hanya sebagai pendengar dan komentator, tetapi sebagai penyaji berita, namun dalam format yang sederhana dan singkat. Media yang sering digunakan adalah radio. Di Indonesia, radio seperti Elshinta misalnya, mengandalkan pendengarnya untuk beberapa muatan berita, terutama traffic report. Media baru semakin mengambil peranan untuk bentuk ini, dan yang paling happening yaitu media sosial, terutama Facebook dan Twitter.  Contoh kecil, saat dulu pengguna Twitter masih segelintir, akun milik saya hanya digunakan untuk menulis status, dan melihat status teman-teman saya—dan memang itulah hakikat sesungguhnya dari Twitter.  Namun seiring berjalannya waktu, ketika Twitter makin dikenal, kini banyak yang memanfaatkannya sebagai akun penyaji informasi/penyumbang informasi.  Dan Twitter adalah media tercepat dalam menyajikan informasi dibandingkan media manapun.  Gempa kecil yang saya rasakan di Yogyakarta misalnya, dari timeline Twitter akan langsung dibicarakan bahwa memang barusan terjadi gempa di daerah Jawa Tengah.

Sajian liputan citizen journalism bahkan kerap kali lebih lengkap daripada liputan jurnalis profesional. Dalam kasus Eric Morse contohnya, media hanya melihat dan membahas kasus Eric Morse sebagai pemenuhan berita. Sang reporter hanya memberikan kabar yang ala kadarnya.  Namun bisa jadi ini juga karena berita yang harus disajikan oleh media massa atau media televisi begitu banyak, sehingga kadang sulit untuk ditelaah secara amat mendalam atau hanyut dalam emosional. Mungkin juga karena media massa terlalu masif membeberkan berita-berita bombastis lainnya. Namun bagi LeAlan dan Llyod, kasus Eric adalah hentakan keras untuk mereka. Kejadian kematian Eric Morse terjadi di sekitar tempat tinggal mereka dan hal ini sangat memacu keduanya untuk berbuat lebih dari apa yang sudah orang-orang media profesional itu lakukan. Mungkin karena faktor emosional tadi pula.  Di film itu kita dapat saksikan LeAlan dan Llyod menjamahi seluruh bagian apartemen itu. Mengetuk setiap pintu kamar penghuni untuk menanyakan bagaimana kronologi, atau apa yang ia tahu tentang Eric dan kehidupannya.

Dan ternyata betul, bahwa mereka mendapatkan informasi—yang media profesional tidak dapatkan—bahwa ternyata dilemparkannya Eric dari atas gedung adalah ketidaksengajaan.  Informasi ini mereka dapatkan dari salah satu penghuni kamar yang amat mengetahui segala keriuhan yang biasa terjadi di lantai 14, dan mengetahui tabiat para perusuhnya yang masih bocah itu.  LeAlan dan Llyod pun menghadiri sidang para terdakwa, dan mewawancarai ayah dari salah satu terdakwa tersebut. Mereka juga mewawancarai pengacara terdakwa dan sang hakim. Dari hasil investigasi yang mereka lakukan itu, memang mengerucutkan pada kesimpulan bahwa kejadian tersebut adalah faktor ketidaksengajaan/tanpa niatan membunuh. Anak berumur sepuluh tahun, tetaplah anak yang berumur sepuluh tahun. Bukan seperti kesimpulan media profesional yang mengumbar bahwa ini adalah produk dari kekerasan di wilayah itu. 

Citizen journalism seringkali menyajikan secara langsung hubungan antara peneliti dengan objek peneliti. Dalam investigasi yang dilakukan LeAlan Jones dan Llyod Newman, mereka lebih peka serta dapat menyesuaikan diri dengan banyak pengaruh terhadap pola-pola nilai yang dihadapi.  Hal ini timbul karena kebutuhan akan informasi yang informan harapkan dapat terpenuhi, tetapi tetap harus seobjektif mungkin.

Dalam porsi yang lebih dalam lagi, timbul pertanyaan seperti, apakah bentuk dan media seperti ini akan sanggup bertahan? Bisa jadi, kuncinya adalah pada keterbukaan, aktivitas yang dinamis, serta konten yang kredibel dan variatif. Karena keunggulan citizen journalism adalah cakupan berita yang sangat luas, sifatnya yang egaliter, dan bahkan kecepatannya. Tetapi mari kita semua optimis, karena karakter masyarakat yang beragam dalam kebutuhannya.

Tuesday, September 6, 2011

Kepala Belakang Kiting





“LAMBAT!”
“Bawel. Aku yakin kelompok lain tak punya anggota secerewet kau!” Adam menangkis geremengan sinis Athir untuk kesekian kalinya sambil membanjur tubuhnya yang apak.                                   
“Tunjukkan respekmu pada anggota yang lain barang secuil! Aku tak mau lagi membersihkan piring kotor bekas mulut-mulut bernapas sangit.”
“Hei, waktu masih sepu..,” Tiba-tiba suara peluit menerobos gendang telinga seluruh penghuni Pondok Cigombong.                         
Tuyul. Ucap Adam dalam hati.     
“Bila kita dihukum lagi, kubunuh kau.”                                                                          

***

Putro keheranan. Ia diganjar udara dingin yang lebat, padahal pagi ini matahari cukup terang. Ia bisa melihat uap putih yang daritadi ia embus-embuskan dari mulutnya. Aromanya pasti luar binasa. Nadhil dan Halim malah tak henti-hentinya misuh lantaran dipaksa berkonsentrasi pada celananya yang kerapkali kedodoran.
“Permainan ini dinamakan Titian Kemenangan. Kalian harus meniti seutas tambang itu sampai ujung, dengan bantuan seutas tambang yang ada di atasnya untuk dipegangi,” ucap kak Adi, salah seorang fasilitator Pesantren Kilat Cigombong itu.
Wajah Tholut tak menunjukkan raut sumringah. Ia merasa semua seremonial ini nonsens dan buang waktu. Ia lebih suka menjajaki petualangan yang lebih alamiah seperti menelusuri sungai, mendaki gunung, atau menjamah goa-goa kuno yang dihuni kelelawar. Sementara tak jauh dari kakak fasilitator, Toyok sudah terlihat menggulung celana panjang kebanggaannya. Kelompok Bilal bin Rabah kali ini selamat.

***

Aku menuju toilet dengan pasti. Bukan karena daritadi menahan buang air kecil saat pelajaran geografi yang mencekam itu. Bukan pula karena ingin merapikan rambut kriboku yang bisa kutata semena-mena ini. Tapi karena Pandu Gempor.. Ya. Pandu Gempor. Ia pasti sekarang sudah berada di toilet. Aku bisa merasakan kehadirannya.
"Pan!" sapaanku meluncur begitu spontan, "Wuih.."
"Hei, Ting. Nih.."
"Thanks ya, Pan. Thanks berat," tanpa kata-kata lagi, segera kumasukkan lembar uang lima puluh ribuan yang ada di genggamanku ini secepat bajing.
Sudah beberapa bulan ini Pandu Gempor begitu baik padaku. Tiba-tiba saja, ia sering merampingkan isi dompetnya untuk dialirkan padaku. Santunkah aku jika menolak pemberian dari “bos”ku? Bukankah tak baik bila kita menolak pemberian dari seseorang? Aku pun tak begitu paham apa maksud Pandu Gempor melakukan hal ini. Tetapi yang pasti, anak gedongan itu, kini sering bergaul denganku, juga teman-temanku. Aku lupa kapan awal mula kami membiasakan aktivitas ini. Yang pasti, lama-kelamaan kini dompet keduaku di rumah makin menggelembung. Dan aku sama sekali tak risih. Hal ini kubuktikan dengan sebuah motor yang berhasil kugaet dari dealer terdekat.                                                      
Dengan gegas, aku dan Pandu Gempor berjalan tanpa ampun menuju kantin untuk memanjakan perut. Kulirik, Abi Fathan geleng-geleng kepala menatap aku dan Pandu Gempor dari lantai dua.

***

Suara tepuk tangan para anggota kelompok Bilal bin Rabah membahana. Toyok berhasil menyelesaikan Titian Kemenangan selain dengan gagah dan tangkas, juga dengan kecepatan yang istimewa. Padahal beberapa menit yang lalu, Nadhil hampir kehilangan daya hidupnya setelah ia terjatuh dari ketinggian yang mengancam itu. Mungkin Toyok titisan kera Tumpei, pikir Ariso.
Antrean calon penjajal Titian Kemenangan pun makin panjang. Tetapi masih ada beberapa manusia malas yang hanya duduk-duduk di Bale, yang sepertinya tak berminat mencoba.
Mata Pandu Gempor lekat-lekat memandang keramaian. Terlihat beberapa murid tengah asyik terkekeh menertawai temannya yang jatuh dari tambang. Ia juga melihat beberapa burung pipit bertengger damai di pucuk pohon cemara yang menjulang di areal Pondok Cigombong yang asri ini. Namun sejauh mata memandang, ia tak berhasil menemukan keberadaan Kiting. Ia tak ada dalam barisan. Ke manakah Kiting yang begitu bersemangat dengan permainan-permainan semacam ini? Kiting, i want to talk. Dan, ah.. ternyata ia di bale.

***

Hari ini seluruh langit Cigombong sungguh cerah. Sebelum berangkat ke pesantren kilat ini, dia jujur padaku tentang kumpulan uang yang berhasil menjadi duit panjer untuk membeli motornya yang baru. Ia belum pernah segembira itu. Namun akhir-akhir ini, ia jarang menemuiku. Inikah sifat manusia? Tholut bilang, Kiting sedang masuk angin. Aku tak tahu apakah setelah ia mendapatkan apa yang diinginkan tiba-tiba ia menjauh? Atau, apakah ia betulan sakit?

***

Pemuda kaya itu memantapkan kakinya untuk melangkah ke tempat Kiting duduk. Namun, Kiting terus menundukkan wajahnya, menatap tanah. Ah, tak mungkin sedari tadi ia tak melihatku, pikir Pandu Gempor.                             
“Ting..,” tak terdengar jawaban darinya. Ia benar-benar sudah dekat. “Kiting..” 
Kiting akhirnya menaikkan pandangannya sembari tetap mengusap-usap, mencoba mengusir pusing di kepala belakangnya. 
“Apaan?”
            Inikah keegoisan itu? Pandu Gempor coba mencerna sebuah nada yang tak nyaman. Ia masih berdiri, dan sibuk mencari celah untuk duduk di sebelah Kiting.
“Kau, sakit?”                                   
“Jangan duduk di sebelahku dulu. Aku pusing.. sumpek,” Kiting merasa pening di kepalanya makin hebat dan kembali menunduk. Hanya ada mereka berdua.    
“Ting..,”
Lagi-lagi Kiting tak menjawab. Kini lubang hidungnya kembang-kempis.             
“Ting, kau tak berniat mencoba Titian..,” belum sempat Pandu Gempor meneruskan kalimatnya, ia sudah terjerembab ke tanah. Entah darimana tiba-tiba celana di sekitaran pinggul Pandu Gempor terdapat bercak coklat kotor bekas sepatu. Kiting tersadar. Ia menutup bibir dengan telapak tangannya.                 


****

Tuesday, April 5, 2011

Red Bluff Bay





Sekumpulan burung sore tampak terlalu damai di cakrawala. Sepertinya mereka masih ingat cara pulang. Koakan mereka yang rukun di angkasa itu menjadi simfoni yang menurutku indah. Sesekali aku juga menoleh ke belakang. Ekor mataku menangkap sinyal kesyahduan dari tiga angsa yang berkitaran mengelilingi kolam dengan nada suaranya yang fluktuatif. Ingin sekali rasanya pelan-pelan aku ikut mondar-mandir bersama mereka. Aku ingin menikmati senyapnya air kolam yang meneduhkan itu yang sepertinya sanggup merontokkan segala laraku begitu saja dan larut dalam keheningan yang khidmat.

*

Aku masih belum ingin pulang ke Jakarta. Aku masih ingin menemukan palu godamku yang paling ampuh itu di sini, untuk meruntuhkan kesenduanku yang belum juga beranjak. Dan seharusnya Asti menguasai hal itu. Seharusnya Asti belajar dari kesalahan-kesalahannya melukaiku. Itu jika dia memang mencintaiku. Ia terlalu pisau. Terlalu dingin bahkan untuk menjadi seorang peluka sekali pun. Aku juga mungkin keliru terlalu mencintainya. Ia sungguh terlalu lihai sebagai seorang perenyuh. Beberapa kali ia membuatku kecewa, namun tetap saja entah bagaimana caranya, tiba-tiba aku memaafkannya. Mungkin begitulah aku menikmati kesedihanku. Aku bukan seseorang yang hanya ingin berlarut-larut dalam roman picisan. Aku hanya seorang yang sudah merasa inilah waktu yang tepat untuk mencari pendamping hidup. Teman-temanku berkata, aku tak punya kekurangan barang secuil. “Kau adalah manajer muda yang kaya, tampan, berprestasi, dan mempunyai kekasih yang cantik. Tunggu apa lagi?” Mereka tak tahu, aku punya sifat bermasalah dalam Asti. Sesuatu yang paling kubenci. Ia terlalu sering menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri, tidak berterus terang, atau bahkan yang lebih parah; mendua. Bahkan saking kerapnya, aku dan Asti menganggap hal seperti ini sebagai musuh bersama. Anehnya, aku masih terus mencintainya.

Beberapa waktu yang lalu, aku sudah melamarnya. Kami sudah bertunangan dan mempersiapkan segalanya. Aku ingin, di hari ulang tahunku yang bertepatan dengan malam pergantian tahun nanti, aku sudah sanggup berbulan madu bersamanya. Bahkan aku telah mempersiapkan segala keperluan untuk itu dari jauh hari. Aku benar-benar sudah mempersiapkan segalanya. Aku sudah berusaha membuang jauh segala keburukannya, segala kekelaman tentangnya yang sempat beberapa kali membuatku goyah. Aku sudah memercayai hal itu, dan aku selalu berdoa agar tak ada lagi hambatan.

Namun tiba-tiba, entah bagaimana pada awal Desember ini, segala ketakutanku tentang sifatnya yang tidak menenteramkan itu kembali muncul ke permukaan. Di penghujung persiapan kami untuk mengukir asa baru, ia diam-diam mendua dan aku diam-diam mengetahuinya. Aku sungguh kehabisan cara memaafkannya. Aku seperti kehilangan segala kemampuanku untuk kembali menyayanginya. Aku kepayahan dan sepertinya sangat tersaruk-saruk.

*

Aku tak menyadari sudah berjam-jam aku berada di bangku ini. Orang-orang semakin ramai berdatangan. Terlihat sebuah mobil bak terbuka membawa beberapa muda-mudi. Mereka turun dari mobil, melompat dengan antusias dengan segala keceriaan di wajahnya, lengkap dengan atribut topi dan terompet yang berwarna-warni. Sepasang manula ber-sweater tebal terlihat di bangku ujung, dengan secangkir minuman yang mengepul dan beberapa kudapan di meja kayu di hadapannya.


Aku sekali lagi menoleh ke belakang. Angsa-angsa itu masih saja berenangan ke sana-ke mari di kolam. Sepertinya Red Bluff Bay sudah siap menghitung mundur. Akhirnya aku berdiri, mendatangi sebuah stan kue yang tak jauh dari kolam. Aku memesan dua small eclairs berlapik kertas. Kemudian aku berjalan menuju pinggir kolam dan merendahkan lututku setengah merangkak. Kuletakkan kue di atas susunan batu-batu kecil yang rapuh, di sampingku. Kue yang satunya kupotong kecil dengan jemariku, lalu kusorongkan potongannya ke angsa-angsa itu. Paruh mereka menyambut, mengunjungi tanganku mematuki kue-kue itu, seperti mematuki luka. Tak lama kemudian aku melihat letupan cahaya warna-warni yang berkilat-kilat dan wajah yang tersenyum di permukaan air kolam yang tenang.


Saturday, March 26, 2011

Arti Sebuah Nilai





Alessandro Del Piero. Seorang pria, seorang legenda, seorang pemecah rekor dan figure berkelas yang tak terbantahkan. Tidak ada yang baru di sana. Memang, penggemar Juventus telah menjadi begitu terbiasa dengan kecemerlangan seorang yang hanya menerima pujian dengan anggukan dan senyum bijaksana: “Kami tahu, Ale, Anda seorang jenius dan sesuai dengan apa yang kami harapkan”.

Tapi terkadang, Ia  jauh lebih dari itu semua. Del Piero bukan hanya pencetak gol berbakat seperti kebanyakan pemain lain yang akan anda temukan di klub papan atas lain, ia telah—dalam cahaya kisah cintanya yang panjang dan dekat dengan Nyonya Tua—menjadi simbol dari klub, seorang bandiera (bendera) yang mewujudkan semangat Juventus.

Tidak ada yang lebih nyata daripada saat ia mencetak gol kemenangan melawan Brescia kemarin, finishing indah setelah sebelumnya menggiring bola dari lingkaran tengah lapangan sampai ke area pinalti lawan. Meliuk-liuk melewati beberapa pemain bertahan lawan dan melakukan  tembakan kaki kiri ke gawang lawan dengan sempurna.

Namun yang menarik bukanlah gol ataupun arti penting dari kemenangan (sejujurnya, mungkin penting, tapi juga mungkin tidak penting setelah hasil buruk di musim yang medioker ini). Yang menarik adalah selebrasi atau perayaan yang memberikan perasaan sangat gembira perasaan bangga dan semangat yang memenuhi dada ini. Bagi saya, secara unik dihubungkan dengan menjadi seorang bianconero.

Siapapun yang memerhatikan dapat melihat api yang terbakar di mata kapten Juve yang sambil berlari menuju para penggemar, berteriak dengan sukacita dan bahkan mungkin lebih dari itu, dengan kekecewaan yang dirasakan oleh semua yang terlibat dengan klub akhir-akhir ini dan seperti yang biasa dilakukan sang kapten.

Ketika ia mencapai plexiglass (kaca pembatas tribun) di depan para penggemar tuan rumah, pada saat yang bersamaan terlihat rasa bangga dan dengki, ia tidak menunjuk ke penggemar atau membuat gerakan selebrasi yang konyol seperti kebanyakan hari ini. Tidak. Dia berulang kali menggedor kaca dengan kedua tangannya! Ia seperti mencoba membangunkan para penggemar dari kondisi mereka yang depresi, murung dan membuat mereka ingat bahwa mereka, tidak peduli dalam keadaan apapun, adalah seorang Juventini. Karena itu semuanya memiliki kewajiban untuk berjuang dan pantang menyerah, baik yang bermain di lapangan maupun yang sedang menontonnya.

Sorot mata Alex Del Piero saat ia menatap ke atas, kepada para penggemar yang sore itu  terbagi menjadi dua kelompok: satu mengeritik manajemen dan klub; dan yang satu berdiri mendukungnya—dan keduanya kecewa dengan diri mereka sendiri dan satu sama lain. Kapten nampak bertekad untuk menyatukan klubnya lagi setelah musim yang buruk, memberikan goncangan kepada setiap orang dan mengangkat semangat yang begitu diperlukan pada saat krisis.

Bagi saya itu momen dengan nilai yang tak tertandingi, salah satu yang harus dihargai oleh semua tifosi. Sebuah sikap yang menghidupkan kegemilangan klub pada masa lalu serta menyalakan sebuah percikan keyakinan akan masa depan, bahkan setelah sang kapten tidak lagi ada untuk menumbuhkan keyakinan dalam diri kita maupun di lapangan.

Aku bukan lagi seorang remaja yang tidak dapat mengendalikan emosiku, tapi menyaksikan pengabdian yang luar biasa dari sang Kapten,  membuat mata saya basah dan sangat sangat bangga. Bangga terhadap Ale, bangga terhadap Juventus dan bangga terhadap diri saya sendiri yang berani mendukung tim ini di masa-masa sulit.

Del Piero, setidaknya bagi saya, merupakan sumber inspirasi dan seorang tokoh simbolik yang pengaruhnya tidak sebatas di dalam lapangan sepakbola. Tetapi dapat mempengaruhi pribadi dan pembawaan saya ke arah yang positif. Dan untuk itu, saya selamanya akan berhutang budi padanya.

Kesampingkan semua hal tentang negosiasi nilai kontrak. Melihat ekspresi dan determinasi yang ditampilkan sang kapten sore itu adalah bukti nyata dari Pinturicchio untuk terus memberikan kontribusi ke klub kita dan hidup kita tentunya. Inilah arti sebuah Nilai!


Sumber: Pondering Calcio: Face Value