Monday, December 13, 2010

Bulan Belum Terlalu Tinggi





"Sudah mau pergi lagi, mbak?"
"Sudah, ndak usah ngurusi mbak. Kamu teraweh saja sana, sudah adzan isya. Habis itu belajar jangan lupa."
Mbak Norma memang selalu begitu. Setiap kutanya ke mana akan pergi atau jam berapa akan pulang, pasti akan selalu balik berujar.
Ia memang giat mencari uang. Selain untuk membiayai kontrakan sederhana yang hanya kami tempati berdua ini, ia juga membiayaiku sekolah. 
Kami sudah tak tinggal dengan orangtua. Ayah kami menghilang entah ke mana sejak kami kecil; sedangkan ibu sudah tidak ada. Aku hidup bersama kakakku satu-satunya itu.
"Ini lipstik mu, mbak? Tadi aku nemu di samping lemari."
"Wah pantes, mbak cari-cari daritadi kok ndak ada. Lipstik siapa lagi kalau bukan punyaku, toh?"
"Yowes ini, ayo mbak buru-buru. Orang-orang sudah pada berangkat, nanti aku telat teraweh."
"Yowes, nanti kalo kamu sudah pulang teraweh, langsung kunci pintunya."
Kami memang punya kunci rumah masing-masing. Kadang, ketika aku sudah tidur malam hari, ia baru pulang. Atau ketika ia tidur siang, aku baru pulang sekolah. Karena itulah, kami menduplikat kunci rumah untuk memudahkan satu sama lain masuk rumah ketika pintu terkunci.
Aku dan mbak Norma kemudian melangkahkahkan kaki, berjalan. Ketika sampai di sebuah persimpangan, kami berpisah.

Aku melenggang ke masjid dengan tenang, sementara ia sudah menghilang di depan gang.


No comments: