Friday, November 12, 2010

Celah





Koakan burung-burung sementara hilang dari pendengaran. Langit menghitam kelam seperti mengisyaraktan sesuatu akan menerjang. Sekejap saja tak kenal ampun langit menghujamkan rinainya begitu liar. Petir berdesing seperti pembunuh yang tanpa ampun mengeksekusi korban. Kucari pemantik di laci meja yang penuh abu berserakan. Asbak yang tak lagi berguna karena hembusan angin begitu kencang. Kuseduh kopi untuk menghangatkan dingin sore yang menusuk tulangku dan tentu kemudian aku harus beranjak untuk merapatkan pintu dan jendela. Aku sejenak berbaring menghadap ke langit-langit sambil sesekali kuhisap dalam-dalam kretekku.
Keparat, sore ini betul-betul dingin.


Bekasi - 2007
Pelor


Mataku memerah pedih. Aku tak peduli. Aku terus menghisap kalap kretek ketenganku dengan liar asalkan dapat menghilangkan stres yang menyerangku sore ini. Nikmat rasa kretek ini jelas saja berkurang karena tak bisa terlalu konsentrasi menikmati hisapan demi hisapannya. Kami membisu di tongkrongan yang sudah seperti rumah kedua ini setelah capek menerka-nerka apa yang akan terjadi nanti dan apa yang harus dilakukan sekarang. Hanya ada panik. Sekali lagi kutarik kretek ini melalui mulut hingga asapnya masuk ke tenggorokan, lalu kuembuskan dengan pasrah.

***

Kejadiannya tadi siang setelah pulang sekolah. Jenuh mengurung dan menghantam pikiranku begitu dahsyat. Matahari yang masih membumbung tinggi seperti ditempelkan begitu saja ke ubun-ubunku. Keringat yang bercucuran kuseka dengan lengan baju seragam dan segera meninggalkan noda cokelat.
“Lor cepetan! Gua udah asem!”
Aku dan teman-temanku baru menginjak kelas satu SMA saat ini. Kata orang, masa-masa SMA adalah masa yang paling indah. Kata orang, masa SMA adalah masa di mana kita benar-benar menikmati masa muda dan berbagai dinamikanya. Kau bisa pacaran di saat libidomu sedang di puncak. Adrenalinmu sebagai anak muda juga sedang bagus kata orang. Kau bisa berbuat seenaknya dan orang akan berkata, anak muda memang. Babi hutan dengan itu semua. Siang ini panas sekali.

***

Kuselah motor Kiting. Setelan gasnya tak pas sehingga harus sedikit repot sebelum berhasil menyala. Aku yang disuruh membawa, karena memang motor milikku kutaruh di rumah Kiting, dan aku berangkat ke sekolah berdua menaiki Kawasaki Ninja miliknya tiap pagi.
Setelah berhasil menyala, Aku dan Kiting segera menuju ke sebuah ruko tak jauh sekolah untuk sejenak melepas penat. Di sana tak hanya kami berdua, banyak juga anak-anak sekolah yang juga kawan-kawan kami, menuju ke sana atau sudah berada di sana. Ada yang memesan es campur, berharap panas siang hari itu sedikit teratasi. Ada yang memesan gado-gado, karedok, ayam goreng. Ada yang bermain gitar. Ada yang sekadar nongkrong saja. Dan ada yang hanya merokok dan terus merokok. Prinsipku sendiri, lebih baik tak makan daripada tak merokok.
“Woi, Lor! Enggak makan lo?”
“Beliin, ya?”
“Yee..,” 
Kawanku Rayi kembali memasukkan sendok berisi nasi dan potongan mie ke dalam mulutnya.

“Bang, Super dua ribu, dong.”
Kukeluarkan dari kantong seragamku dua lembar seribuan kumal yang di permukaannya tertulis nomor-nomor telepon untuk mengambil tiga batang Djarum Super yang disodorkan abang warung. Kusulut segera satu dengan korek yang tergantung diikat tali rafia menjuntai di warung. Aku segera bergabung dengan teman-teman yang sudah lebih dahulu duduk-duduk di situ dan segera menginstal ulang otak dengan asap-asap nikmat. Bajingan, nikmat sekali.

***

Siang terkendali dengan baik, kurasa. Di lorong ujung, anak-anak masih bercanda dan tertawa. Ada suara genjrengan gitar kopong yang dimainkan Reza Badak yang aku tak tahu sedang memainkan lagu apa. Koridor ruko penuh asap. Kami memenuhi koridor-koridor itu sehingga akan sulit jika ada orang yang ingin berjalan melewatinya agar tak menginjak kami.
Jika aku menjadi pemilik dari salah satu ruko di situ, jelas aku terganggu dan mungkin mengusir anak-anak ini. Atau aku akan memberi tahu pihak sekolah bahwa murid-murid sekolah mengganggu aktivitas ruko dan sekitar. Ruko yang menjual makanan atau minuman lebih beruntung karena pasti para murid biasanya akan memesan apapun. Ah, peduli setan dengan itu semua. Aku hanya ingin bersandar sebentar sambil memejamkan mata.

***

Pada saat kami masih asyik nongkrong, aku melihat seorang bapak-bapak memakai helm, berjalan di lorong ujung mendekati kumpulan kami. Ah, kurasa ia hanya orang yang mungkin ingin membeli sesuatu atau yang lain di salah satu ruko, walaupun agak sedikit ganjil karena helm masih terpasang di kepalanya dan tidak diletakkan di motor atau ditenteng jika ia khawatir helmnya raib. Kulanjutkan hisapanku.
Bapak itu berjalan semakin dekat dan akhirnya ia berada betul-betul di tengah-tengah kami. Semua pandangan tertuju padanya. Ia tak melanjutkan langkahnya. Aneh. Ia hanya melihat-lihat kami, menyapu mata-mata kami seperti berusaha mencari seseorang. Tiba-tiba ia melepaskan helmnya. Bangsat! Itu Pak Hasyim! Ia adalah guru Kewarganegaraan di sekolah sekaligus pentolan Pertahanan Sekolah atau sering disebut Tanse. Ia adalah guru yang ditakuti dan cukup beringas menghukum anak-anak bermasalah. Biji mataku hampir keluar. Dadaku berdesir kencang. Kusentil Djarum Super yang tinggal beberapa sentimeter itu ke tanah. Celaka, sepertinya dia sempat menghafal wajahku! Murid-murid berhamburan seperti tawon yang sarangnya diusik. Aku segera menuju motor dan coba menyalakannya. Anjing! Motornya macet!
“CEPETAN, LOR!” Kiting panik setengah mati. Kutiup tali gas bangsat bermasalah itu dan kemudian menyelahnya. Menyala. Secepat-cepatnya kupacu motor itu, kabur menjauhi ruko agar tak tertangkap atau setidaknya wajahku tak diingat oleh Pak Hasyim, karena hukuman bagi murid yang ketahuan merokok, cukup berat. Aku, Kiting, dan kawan-kawan kelompokku menuju tongkrongan utama kami.

***

Kejadian tadi membawa kami kabur sampai ke Jalan Angsa. Ini adalah tongkrongan kami sejak SMP dan memang gedung SMP kami hanya berjarak selemparan kancut dari Jalan Angsa. Nama Jalan Angsa diberikan oleh Bokir, salah satu warga di pemukiman, karena di situ terdapat banyak sekali unggas yang ia pelihara seperti burung, ayam, entog dan lain-lain. Kenapa bokir memilih untuk menamakan jalan itu bernama Jalan Angsa dan bukan Jalan Ayam atau Jalan Burung, cuma dia dan cahaya lampu Kampung Pulo yang tahu.
Anak-anak kecil berlarian. Ibu-ibu duduk di bale sambil menunggu pesanan bakso cuankinya datang. Sedangkan kami, murung menekuk wajah diterpa ketakutan. Kami cuma bisa menebak-nebak apa yang nanti akan terjadi. Kami belum punya pengalaman untuk menghadapi pasukan bapak ibu guru Bimbingan Pelajar karena aturan di SMA kami memang ketat, berbeda dengan aturan serta hukuman yang diberikan ketika kami SMP. SMA kami tak segan mengeluarkan murid yang bermasalah, dan memang sudah banyak murid yang dikeluarkan.
“Ke rumah Koko aja kita sekarang.” Aku menyarankan Kiting ke rumah Koko, tongkrongan kami yang satu lagi. Di sana ada sosok sepuh yang biasa memberikan kami nasehat-nasehat yang mungkin bisa melegakan. Teman-teman kami yang lain pulang. Aku dan Kiting pergi ke sana.

***

Rumah Koko sederhana. Suasananya tak beda jauh dengan suasana Jalan Angsa. Aku dan Kiting masuk, disambut dengan senyuman lelaki tua itu. Kukeluarkan Zippo imitasiku, kubakar satu persatu Djarum Super sambil mendengarkan Koko berbicara. Detik menjadi menit, dan menit menjadi jam. Hampir maghrib. Setelah beberapa saat kami diberi nasehat dan ditenangkan, aku dan Kiting undur diri pamit pulang. Sial. Baru saja ingin menyalakan motor, rintik-rintik gerimis mengetuk-ngetuk kepala kami.
“Buruan, Lor! Keburu ujan gede!”
Binatang jalang. Seperti biasa, harus kuselah dengan susah payah dulu, baru Kawasaki Ninja sialan ini menyala. Benar saja. Di tengah perjalanan, rintikan gerimis berubah menjadi hujan badai yang sangat deras. Petir-petir menyalak tanpa ampun. Dan kami tak membawa jas hujan. Aku memacu motor lebih cepat.

***

“Anjing! Dingin banget, Lor! Sakit banget ujannya!”
Rinai hujan dahsyat yang menghunjam kulit tubuh ditambah laju motor terpacu cepat membuat Kiting merengek kesakitan. Sedangkan aku? Terus berkelebatan dalam kepala tentang peristiwa Pak Hasyim menggerebek kami tadi siang dan aku cukup yakin ia melihat wajahku. Mampuslah jika Pak Hasyim ingat wajahku. Pikiranku yang terus mengawang ke sana membuat hujan ini terasa seperti sentuhan anak bayi. Demi Tuhan, aku tak ingin dikeluarkan dari sekolah.
“Anjing! Sakit banget! Pelan-pelan napa!”
Rengek’an Kiting membuat kepalaku ingin pecah. Aku menepikan motor ke kiri jalan dan kuberikan saja kaos yang kukenakan kepadanya.
“Pake kaos gua nih!”
Kini aku memacu motor bertelanjang dada. Tak peduli aku dikira orang sinting oleh orang-orang, lagipula pandangan mereka juga pasti terhalangi oleh derasnya hujan.

***

Sampailah kami di depan rumah Kiting. Aku mengambil motorku di garasi rumahnya. Aku meminjam kaos kering milik Kiting yang diambilkan pembantunya setelah Kiting menyuruhnya.
“Duh, ntar gue ngaji lagi, males banget!”
Ini hari Kamis. Kiting memang sejak kecil hingga kini punya kebiasaan mengaji. Lebih tepatnya diperintah ibunya. Guru ngajinya datang setiap Kamis magrib. Kata-kata Kiting tentang ngaji barusan menyulut otakku. Inikah kesempatan itu? Kukeluarkan motor trondolku dari garasi. Sama, harus aku selah terlebih dahulu. Aku memang akrab sekali dengan kick starter motor bajingan. Kukeluarkan motor dari pagar. Dan sebelum ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, dari luar pagar aku menyampaikan pesan ke Kiting,
“Ting, gua minta tolong dong. Bilangin ke guru ngaji lo, bikin Pak Hasyim lupa sama muka gua.”

No comments: