Thursday, November 25, 2010

Kumis dan Puff




Puff namanya. Di hadapan perempuan yang mengenakan daster ukuran ekstra besar dengan rambut dijepit itu, terdapat kotak transparan yang berisi teh dengan bongkahan-bongkahan es sehingga kotak itu tampak seperti berkeringat. Teh itu ia aduk menggunakan pengaduknya: gagang panjang dengan ujung seperti gelas kecil, untuk menuangkan teh itu ke dalam plastik.
Setiap bel istirahat, Puff tak henti-hentinya mengurus anak-anak sekolah yang kehausan. Tak hanya teh, ia juga menyediakan beragam jenis minuman saset siap seduh rasa lemon, jeruk, apel, anggur, melon, dan minuman soda saset imitasi peniru merek raksasa. Ia juga menyediakan aneka cemilan garing yang dapat diberi bumbu pedas, manis, atau asin, tergantung selera.
Di kantin, Puff berbagi lapak satu atap bersama penjual mie ayam yaitu Mbak Dawan. Anak-anak lebih sering membeli Indomie rebus atau Indomie goreng—yang sebetulnya juga direbus—ketimbang mie ayam konvensional yang Mbak Dawan tawarkan.
Ini merupakan strategi yang bagus antara Puff dan Mbak Dawan, karena biaya sewa lapak per bulan ditanggung bersama dan tentu mereka jadi bayar lebih sedikit.
Di luar kantin, tetapi masih di sekitaran sekolah, Kumis yang berpostur kurus, kecil, dan sesuai namanya, berkumis lebat, sibuk melayani anak-anak yang ingin mengganjal perut. Kumis adalah suami Puff yang berjualan mie goreng—yang sebetulnya direbus—mie dan makaroni garing berbumbu, dan aneka minuman saset. Dagangannya hampir sama seperti Puff, bedanya Kumis menggunakan gerobak.  
Aku mengamati, Puff dan Kumis adalah keluarga pedagang paling sukses dan paling dikenal di sekitar sekolah. Mereka tinggal di Kampung Pulo, sebuah kampung kecil dekat sekolah, dan memang kebanyakan dari pemukimnya pedagang. Manajemen dan strategi dagang Puff dan Kumis, apik. Mereka lincah dan pandai melihat peluang. Pernah suatu waktu, salah satu keluarga di Kampung Pulo mengadakan tahlilan yang dihadiri cukup banyak orang. Selesai acara, tiba-tiba hujan turun dengan amat deras dan para tamu tentu tak bisa pulang karena tak membawa payung sementara mereka tak ingin basah kuyup. Tahu apa yang dilakukan Kumis? Dalam sekejap ia sudah berada di samping tenda para tamu, membawa dua payung, menawarkan jasanya.

Anak mereka yang paling besar sudah selesai berkuliah, sudah menikah, dan sekarang sudah bekerja. Semua pedagang di sini iri dan takjub pada kesuksesan dan keharmonisan mereka.

***

Ketika bel istirahat meraung-raung, tak ada yang lebih dinanti. Bayangkan, sekolah kami terdiri dari SD dan SMP yang mempunyai ribuan murid. Dan setiap selesai istirahat, hampir pasti kotak es teh yang dijual seribu rupiah saja per plastik oleh Puff, kandas, dan ia segera membuat racikan es teh yang baru. Begitu pula dengan cemilan garing yang habis diborong murid-murid. Itu belum istirahat kedua.
            Sebetulnya, cemilan garing yang dijual Puff begitu mengkhawatirkan, terutama bumbunya yang sangat tidak sehat dan tentu berbahaya jika dikonsumsi dalam jumlah berlebih. Namun Puff dan para murid memang mempersetankan itu. Bagi para murid “yang penting enak”.  Dan bagi Puff tentulah pundi-pundi. Banyak murid berkelakar ihwal camilan garing berbumbu yang dijajakan Puff. “Kalo mau masuk ITB, tambahin yang banyak bumbunya!”
Ditemani kicauan burung-burung gereja dan ayam-ayam kampung yang sibuk mematuki sisa-sisa nasi di jalan, setiap hari Puff dan Kumis terus menimbun keuntungan dari hasil berjualan. Mereka tak pernah berhenti mengucap syukur kepada Tuhan sang pencipta segala.  Mereka selalu berdoa, dan berterima kasih karena masih diberi kesempatan untuk mengais rezeki yang halal.
Tetapi, setan tetaplah setan, mengganggu manusia. Pada satu malam, terjadi pertengkaran yang sungguh dahsyat antara Puff dan Kumis. Teriakan dan suara pecahan benda pecah belah terdengar dari rumah mereka.
“HEH APA-APAAN KAMU! ITU PIRING PADA PECAH SEMUA!!”
“MAKANYA KALO BELI PIRING TUH PIRING KALENG!!”
Ayam-ayam tetangga kaget dan gaduh mengepak-ngepakkan sayapnya. Warga yang sedang ronda pun menghentikan permainan catur mereka. Pak RT jelas tak mau berurusan dengan hal seperti itu. Beberapa ibu-ibu keluar dari rumah dan saling melongo, bercakap-cakap sambil berbisik, bertanya satu sama lain dan segera dibalas jawaban tak tahu oleh yang lain. Tetapi ada dari mereka yang menduga, pertengkaran itu terjadi karena Kumis ketahuan bermain gila dengan janda genit beranak tiga di Kampung Dua. Yang lainnya mengatakan justru Puff yang bermain gila dengan bandot tua penjahit jas di Kayuringin. Tapi semua itu cuma desas-desus dan tak ada yang tahu sebab pasti pertengkaran mereka. Malam terasa begitu ganjil. Suara teriakan dan benda-benda pecah belah yang pastinya hancur berkeping-keping masih terus terdengar.

***

“Kau sudah baikkan?” kata Kumis
“Saya tak apa-apa,” Puff membalas.
“Tak apa-apa bagaimana? Bibirmu masih biru. Maafkan aku. Sungguh, aku betul-betul seperti dirasuki setan malam itu. Dan aku menyesal telah melakukannya padamu.”
“Yang sudah terjadi biarlah terjadi, sayang. Tugas kita saat ini adalah tetap berusaha untuk menjaga keluarga ini agar tetap utuh.”
Tiba-tiba seorang suster masuk ke dalam ruangan, mendorong meja berjalan yang di atasnya terdapat sebuah nampan dan mangkuk mengepul.
“Pak Kumis, ini sup ayam. Dihabiskan, ya.”



Bekasi, Jakapermai.

2006

Wednesday, November 24, 2010

Beku




Sipit-sipit kubuka mataku dari pejam. Matahari menyelinap masuk melalui celah jendela dan gorden yang setengah terbuka. Dengan pandangan yang sedikit tertutup tahi mata, aku melihat jam dinding. Jarum pendeknya menunjuk angka sembilan. Aku sedikit tersentak. Apa aku telat? Apakah mama tidak membangunkanku untuk sekolah? Tidak, tidak. Justru ini saat-saat yang aku tunggu. Sekarang Sabtu, libur. Hariku.
Harus kukumpulkan seluruh tenagaku untuk hanya bisa beranjak duduk bangun dari tempat tidur. Kubunyikan seluruh tulang tubuhku, mulai dari kepala, tangan, pinggul dan kaki.  Rasa nikmatnya tak terbahasakan. Aku beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi, mewariskan liur untuk bantal dan meninggalkan pemandangan berantakan. Aku sudah benar-benar bangun.

***

Kubuka keran wastafel dengan cermin di hadapanku. Terasa begitu dingin ketika aliran air menyentuh kulit tanganku. Kupandang cermin. Sinting. Kubasuh wajah dekil ini. Mungkin bila aku keluar rumah dan langsung menuju lampu merah, aku bisa meraup banyak receh dengan keadaan kumal seperti ini. 
Keluar dari kamar mandi kulihat adikku Rangga sedang asyik memirsa Crayon Sinchan. Ia geli melihat perilaku tak lazim Sinchan. Sabtu memang hari di mana semua orang perlu berbahagia. Sejenak meneduhkan diri dari penat adalah hal yang mesti. Sejenak menjauhi tempat bernama sekolah adalah surga, meski PR yang menumpuk ingin kumasukkan saja ke dalam lubang kakus. Aku tak mau memikirkan itu semua. Di Sabtu yang cerah ini, aku ingin segalanya tampak memesona. 
Apalagi kini aku telah memiliki dara yang telah lama aku idam-idamkan. Aku tak sendirian lagi. Namanya Sarah. Baru beberapa hari ini kujalani hubungan istimewa itu dengannya yang tentu masih sedikit kaku. Ini memang kelemahanku sejak mempunyai sindrom ‘tiga detik lari’ jika meihat geng wanita. Kuambil ponsel di atas meja kamar untuk mengecek apakah ada pesan masuk.  Benar saja, satu pesan masuk dari Sarah

From: Sarah
“Pagi syg, udah bangun blm??”

Ah betapa hatiku berbunga-bunga. Mendadak panas tubuku. Tetapi memang dasar sial, pulsaku habis untuk membalas pesan dari Sarah. Tai. Sabtu yang seharusnya menjadi hari romantis untuk dua sejoli seperti kami, sedikit ternoda pagi ini. Semoga ia menduga-duga bahwa aku kehabisan pulsa, karena memang itulah yang tejadi.

“Bi! Bikinin makan!”
“Mas Kiting mau makan apa?”
“Mi kuah aja, bi! Pake telor!”
“Iya, mas.”

Teriakanku dari lantai dua rumah ini sanggup terdengar ke dapur bawah. Bajingan, aku sangat lapar. Hari ini juga sudah pasti rumahku akan terlihat seperti tempat pengungsian. Sabtu dan Minggu, bahkan saat sepulang sekolah, rumahku menjadi basecamp teman-temanku berkumpul. Entah untuk bermain playstation, komputer, atau sekadar menonton Smack Down dari DVD bajakan yang kami beli di emperan ruko atau DVD asli yang biasanya kami beli di Disc Tarra.
Tak meleset sedikitpun. Baru saja mie rebusku datang, satu temanku sudah memanggil-manggil namaku dari luar rumah. Winning Eleven adalah candu. Dari balkon aku berteriak kepadanya agar langsung masuk saja.
“Buruan.”
“Tunggu, gua abisin mie dulu, lo nyalain dulu aja PS-nya.”

Winning Eleven adalah game playstation sepakbola produksi Jepang yang menurutku amat bikin lupa waktu. Kemampuan temanku yang baru aja memasukkan CD ke dalam mesin game berwarna abu-abu itu, lebih mahir dariku. Aku sering kalah, tapi setidaknya bisa mengimbangi. Pada lain waktu sebaliknya. Namun semakin aku kalah, semakin itu menjadi pelecut semangat untuk membuatku lebih mahir. Oleh karenanya aku selalu bersemangat bila ada seseorang menantangku dalam Winning Eleven.
Kuhabiskan mie rebus dan segera meletakkan mangkok kosongnya di dapur.  Aku segera berlari ke lantai dua untuk segera menengglamkan Sabtuku pada Winning Eleven. Tiba di kamar, Arsenal sudah dipilih dan berarti aku harus memilih tim dengan skuat yang lebih baik atau setidaknya seimbang. Mungkin Real Madrid atau AC Milan, atau Thierry Henry akan menghancurkanku. Tetapi kulihat, temanku sedang memegang telepon ponsel milikku dan mengeceknya.

“Ting, ini SMS dari Sarah enggak lo bales?”
“Enggak ada pulsa gua.”
“Apa lo beli pulsa dulu, terus bales?”
“Entar siangan aja deh, males gua belinya.”

Ia meletakkan ponselku di lantai dan segera kupilih AC Milan. Tanpa banyak omong kami langsung menyusun tim dengan gegas, mulai dari mengatur formasi, memilih starting eleven, menentukan taktik spesifik untuk tiap pemain, hingga memilih penendang pinalti. Kuharap Andriy Shevchenko kali ini banyak merepotkan Sol Campbell dan menu mulai bermain segera dipilih.

***

Tiba-tiba ponselku bergetar. Panggilan masuk.
            “Ting, Sarah itu!”
“Entar ajalah. Tanggung!”
Bukannya tak mau mengangkat, tetapi jika aku mengangkatnya sekarang, pasti pembicaraan akan terjadi lama sekali sementara Winning Eleven tak mungkin ditunda. Lagi pula setelah bermain, aku bisa menelponnya dan justru memiliki waktu lebih banyak dan lebih lepas untuk ngobrol tentang apa saja.
Aku larut dalam permainan. Di saat yang bersamaan ponselku tak berhenti bergetar. Tanggung, tanggung, tanggung. Aku harus menang. Tai! AC Milan kalah, Real Madrid seri, Manchester United dibantai, dan jelas Inter Milan tak bisa diharapkan. Telepon genggamku masih bergetar.

***

Setelah bergetar berkepanjangan, benda itu akhirnya diam dan tak lama disusul getaran satu kali, yang berarti pesan masuk. Untunglah kalau Sarah paham. Aku tahu dia pengertian. Dan setelah banyak sekali pertandingan, sejenak kulemaskan jari-jariku dan sepertinya sekarang aku akan membeli pulsa di ujung komplek dan menikmati Sabtu romantisku dengan Sarah. Mungkin aku akan mengajaknya jalan-jalan sementara teman tandingku itu bersiap pulang.
Kuraih ponsel dengan degup familiar yang kurasakan seperti beberapa waktu belakangan. Kutekan menu pesan masuk, dari Sarah. Kutekan keypad dan berarti masuk ke pesan Sarah.
        
            From: Sarah

            “I HATE YOU”


                                                                                                                                    Bekasi, Jakapermai
                                                                                                                                                           2003

Friday, November 12, 2010

Celah





Koakan burung-burung sementara hilang dari pendengaran. Langit menghitam kelam seperti mengisyaraktan sesuatu akan menerjang. Sekejap saja tak kenal ampun langit menghujamkan rinainya begitu liar. Petir berdesing seperti pembunuh yang tanpa ampun mengeksekusi korban. Kucari pemantik di laci meja yang penuh abu berserakan. Asbak yang tak lagi berguna karena hembusan angin begitu kencang. Kuseduh kopi untuk menghangatkan dingin sore yang menusuk tulangku dan tentu kemudian aku harus beranjak untuk merapatkan pintu dan jendela. Aku sejenak berbaring menghadap ke langit-langit sambil sesekali kuhisap dalam-dalam kretekku.
Keparat, sore ini betul-betul dingin.


Bekasi - 2007
Pelor


Mataku memerah pedih. Aku tak peduli. Aku terus menghisap kalap kretek ketenganku dengan liar asalkan dapat menghilangkan stres yang menyerangku sore ini. Nikmat rasa kretek ini jelas saja berkurang karena tak bisa terlalu konsentrasi menikmati hisapan demi hisapannya. Kami membisu di tongkrongan yang sudah seperti rumah kedua ini setelah capek menerka-nerka apa yang akan terjadi nanti dan apa yang harus dilakukan sekarang. Hanya ada panik. Sekali lagi kutarik kretek ini melalui mulut hingga asapnya masuk ke tenggorokan, lalu kuembuskan dengan pasrah.

***

Kejadiannya tadi siang setelah pulang sekolah. Jenuh mengurung dan menghantam pikiranku begitu dahsyat. Matahari yang masih membumbung tinggi seperti ditempelkan begitu saja ke ubun-ubunku. Keringat yang bercucuran kuseka dengan lengan baju seragam dan segera meninggalkan noda cokelat.
“Lor cepetan! Gua udah asem!”
Aku dan teman-temanku baru menginjak kelas satu SMA saat ini. Kata orang, masa-masa SMA adalah masa yang paling indah. Kata orang, masa SMA adalah masa di mana kita benar-benar menikmati masa muda dan berbagai dinamikanya. Kau bisa pacaran di saat libidomu sedang di puncak. Adrenalinmu sebagai anak muda juga sedang bagus kata orang. Kau bisa berbuat seenaknya dan orang akan berkata, anak muda memang. Babi hutan dengan itu semua. Siang ini panas sekali.

***

Kuselah motor Kiting. Setelan gasnya tak pas sehingga harus sedikit repot sebelum berhasil menyala. Aku yang disuruh membawa, karena memang motor milikku kutaruh di rumah Kiting, dan aku berangkat ke sekolah berdua menaiki Kawasaki Ninja miliknya tiap pagi.
Setelah berhasil menyala, Aku dan Kiting segera menuju ke sebuah ruko tak jauh sekolah untuk sejenak melepas penat. Di sana tak hanya kami berdua, banyak juga anak-anak sekolah yang juga kawan-kawan kami, menuju ke sana atau sudah berada di sana. Ada yang memesan es campur, berharap panas siang hari itu sedikit teratasi. Ada yang memesan gado-gado, karedok, ayam goreng. Ada yang bermain gitar. Ada yang sekadar nongkrong saja. Dan ada yang hanya merokok dan terus merokok. Prinsipku sendiri, lebih baik tak makan daripada tak merokok.
“Woi, Lor! Enggak makan lo?”
“Beliin, ya?”
“Yee..,” 
Kawanku Rayi kembali memasukkan sendok berisi nasi dan potongan mie ke dalam mulutnya.

“Bang, Super dua ribu, dong.”
Kukeluarkan dari kantong seragamku dua lembar seribuan kumal yang di permukaannya tertulis nomor-nomor telepon untuk mengambil tiga batang Djarum Super yang disodorkan abang warung. Kusulut segera satu dengan korek yang tergantung diikat tali rafia menjuntai di warung. Aku segera bergabung dengan teman-teman yang sudah lebih dahulu duduk-duduk di situ dan segera menginstal ulang otak dengan asap-asap nikmat. Bajingan, nikmat sekali.

***

Siang terkendali dengan baik, kurasa. Di lorong ujung, anak-anak masih bercanda dan tertawa. Ada suara genjrengan gitar kopong yang dimainkan Reza Badak yang aku tak tahu sedang memainkan lagu apa. Koridor ruko penuh asap. Kami memenuhi koridor-koridor itu sehingga akan sulit jika ada orang yang ingin berjalan melewatinya agar tak menginjak kami.
Jika aku menjadi pemilik dari salah satu ruko di situ, jelas aku terganggu dan mungkin mengusir anak-anak ini. Atau aku akan memberi tahu pihak sekolah bahwa murid-murid sekolah mengganggu aktivitas ruko dan sekitar. Ruko yang menjual makanan atau minuman lebih beruntung karena pasti para murid biasanya akan memesan apapun. Ah, peduli setan dengan itu semua. Aku hanya ingin bersandar sebentar sambil memejamkan mata.

***

Pada saat kami masih asyik nongkrong, aku melihat seorang bapak-bapak memakai helm, berjalan di lorong ujung mendekati kumpulan kami. Ah, kurasa ia hanya orang yang mungkin ingin membeli sesuatu atau yang lain di salah satu ruko, walaupun agak sedikit ganjil karena helm masih terpasang di kepalanya dan tidak diletakkan di motor atau ditenteng jika ia khawatir helmnya raib. Kulanjutkan hisapanku.
Bapak itu berjalan semakin dekat dan akhirnya ia berada betul-betul di tengah-tengah kami. Semua pandangan tertuju padanya. Ia tak melanjutkan langkahnya. Aneh. Ia hanya melihat-lihat kami, menyapu mata-mata kami seperti berusaha mencari seseorang. Tiba-tiba ia melepaskan helmnya. Bangsat! Itu Pak Hasyim! Ia adalah guru Kewarganegaraan di sekolah sekaligus pentolan Pertahanan Sekolah atau sering disebut Tanse. Ia adalah guru yang ditakuti dan cukup beringas menghukum anak-anak bermasalah. Biji mataku hampir keluar. Dadaku berdesir kencang. Kusentil Djarum Super yang tinggal beberapa sentimeter itu ke tanah. Celaka, sepertinya dia sempat menghafal wajahku! Murid-murid berhamburan seperti tawon yang sarangnya diusik. Aku segera menuju motor dan coba menyalakannya. Anjing! Motornya macet!
“CEPETAN, LOR!” Kiting panik setengah mati. Kutiup tali gas bangsat bermasalah itu dan kemudian menyelahnya. Menyala. Secepat-cepatnya kupacu motor itu, kabur menjauhi ruko agar tak tertangkap atau setidaknya wajahku tak diingat oleh Pak Hasyim, karena hukuman bagi murid yang ketahuan merokok, cukup berat. Aku, Kiting, dan kawan-kawan kelompokku menuju tongkrongan utama kami.

***

Kejadian tadi membawa kami kabur sampai ke Jalan Angsa. Ini adalah tongkrongan kami sejak SMP dan memang gedung SMP kami hanya berjarak selemparan kancut dari Jalan Angsa. Nama Jalan Angsa diberikan oleh Bokir, salah satu warga di pemukiman, karena di situ terdapat banyak sekali unggas yang ia pelihara seperti burung, ayam, entog dan lain-lain. Kenapa bokir memilih untuk menamakan jalan itu bernama Jalan Angsa dan bukan Jalan Ayam atau Jalan Burung, cuma dia dan cahaya lampu Kampung Pulo yang tahu.
Anak-anak kecil berlarian. Ibu-ibu duduk di bale sambil menunggu pesanan bakso cuankinya datang. Sedangkan kami, murung menekuk wajah diterpa ketakutan. Kami cuma bisa menebak-nebak apa yang nanti akan terjadi. Kami belum punya pengalaman untuk menghadapi pasukan bapak ibu guru Bimbingan Pelajar karena aturan di SMA kami memang ketat, berbeda dengan aturan serta hukuman yang diberikan ketika kami SMP. SMA kami tak segan mengeluarkan murid yang bermasalah, dan memang sudah banyak murid yang dikeluarkan.
“Ke rumah Koko aja kita sekarang.” Aku menyarankan Kiting ke rumah Koko, tongkrongan kami yang satu lagi. Di sana ada sosok sepuh yang biasa memberikan kami nasehat-nasehat yang mungkin bisa melegakan. Teman-teman kami yang lain pulang. Aku dan Kiting pergi ke sana.

***

Rumah Koko sederhana. Suasananya tak beda jauh dengan suasana Jalan Angsa. Aku dan Kiting masuk, disambut dengan senyuman lelaki tua itu. Kukeluarkan Zippo imitasiku, kubakar satu persatu Djarum Super sambil mendengarkan Koko berbicara. Detik menjadi menit, dan menit menjadi jam. Hampir maghrib. Setelah beberapa saat kami diberi nasehat dan ditenangkan, aku dan Kiting undur diri pamit pulang. Sial. Baru saja ingin menyalakan motor, rintik-rintik gerimis mengetuk-ngetuk kepala kami.
“Buruan, Lor! Keburu ujan gede!”
Binatang jalang. Seperti biasa, harus kuselah dengan susah payah dulu, baru Kawasaki Ninja sialan ini menyala. Benar saja. Di tengah perjalanan, rintikan gerimis berubah menjadi hujan badai yang sangat deras. Petir-petir menyalak tanpa ampun. Dan kami tak membawa jas hujan. Aku memacu motor lebih cepat.

***

“Anjing! Dingin banget, Lor! Sakit banget ujannya!”
Rinai hujan dahsyat yang menghunjam kulit tubuh ditambah laju motor terpacu cepat membuat Kiting merengek kesakitan. Sedangkan aku? Terus berkelebatan dalam kepala tentang peristiwa Pak Hasyim menggerebek kami tadi siang dan aku cukup yakin ia melihat wajahku. Mampuslah jika Pak Hasyim ingat wajahku. Pikiranku yang terus mengawang ke sana membuat hujan ini terasa seperti sentuhan anak bayi. Demi Tuhan, aku tak ingin dikeluarkan dari sekolah.
“Anjing! Sakit banget! Pelan-pelan napa!”
Rengek’an Kiting membuat kepalaku ingin pecah. Aku menepikan motor ke kiri jalan dan kuberikan saja kaos yang kukenakan kepadanya.
“Pake kaos gua nih!”
Kini aku memacu motor bertelanjang dada. Tak peduli aku dikira orang sinting oleh orang-orang, lagipula pandangan mereka juga pasti terhalangi oleh derasnya hujan.

***

Sampailah kami di depan rumah Kiting. Aku mengambil motorku di garasi rumahnya. Aku meminjam kaos kering milik Kiting yang diambilkan pembantunya setelah Kiting menyuruhnya.
“Duh, ntar gue ngaji lagi, males banget!”
Ini hari Kamis. Kiting memang sejak kecil hingga kini punya kebiasaan mengaji. Lebih tepatnya diperintah ibunya. Guru ngajinya datang setiap Kamis magrib. Kata-kata Kiting tentang ngaji barusan menyulut otakku. Inikah kesempatan itu? Kukeluarkan motor trondolku dari garasi. Sama, harus aku selah terlebih dahulu. Aku memang akrab sekali dengan kick starter motor bajingan. Kukeluarkan motor dari pagar. Dan sebelum ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, dari luar pagar aku menyampaikan pesan ke Kiting,
“Ting, gua minta tolong dong. Bilangin ke guru ngaji lo, bikin Pak Hasyim lupa sama muka gua.”

Wednesday, October 27, 2010

Kilah




Kiting mengencangkan tali sepatunya yang longgar di tangga dekat kelasnya. Ia malas ketika sedang bermain berlarian bersama temannya, talinya lepas dan ia terjatuh akibat menginjak tali sepatunya sendiri. Ia baru menginjak kelas empat SD. Nilai rapotnya bisa dikatakan biasa-biasa saja, hancur malah. Ia termasuk anak paling semerawut di kelas 4A, bersama Gilang, dan Utha.
Bel sekolah yang meraung pertanda jam istirahat telah selesai dan anak-anak harus masuk kelas. Beruntung bagi Kiting dan komplotannya Ini adalah saat-saat yang ia dambakan. Pak Totong yang seharusnya kini mengajar di kelas, hanya memberi tugas lalu pergi karena ada suatu urusan. Anak-anak di barisan depan dengan sigap mengeluarkan alat tulisnya dan segera mengerjakan tugas yang diberikan. Sementara anak-anak yang berada di barisan belakang seperti Kiting, Utha dan Gilang, menganggap ini adalah waktu ekstra untuk rusuh. Soal tugas? Persetan akan itu.
Perpindahan kelas tiga ke kelas empat adalah masa transisi yang kritis. Anak-anak semakin membuka diri terhadap dunia luar dan semakin banyak menyerap informasi baik yang positif maupun yang negatif. Mereka semakin ingin tahu dengan hal-hal yang belum mereka ketahui. Inilah yang tengah dialami Kiting dan teman-temannya saat ini. Mereka adalah anak-anak badung dan cukup membuka diri akan hal-hal negatif.

***

Matahari semakin menyilaukan, merambat masuk sebagian ruangan kelas melalui jendela. Itang dan teman-temannya terus cekikikan di barisan belakang kelas tanpa memedulikan anak-anak yang sedang mengerjakan tugas. Jelas saja anak-anak itu terganggu dengan suara canda tawa Kiting CS, namun anak-anak itu tak berani menegur atau malas menegur karena komplotan Kiting juga tak akan menghentikan kegaduhan.

***

Jarum jam semakin jauh berputar. Anak-anak yang tengah mengerjakan tugas yang diberikan Pak Totong semakin keki menghadapi situasi tak kondusif ini. Kiting dan komplotannya pun bukannya diam, malah semakin memperkeras suara tawanya akibat kelucuan-kelucuan dari candaan mereka. Sonia, salah satu murid perempuan yang terganggu dengan kebisingan ini ingin sekali memasukan komplotan Kiting ke dalam keranjang sampah. Tentu saja itu tak mungkin. Sonia kemudian penasaran dengan apa yang komplotan Kiting bahas sampai-sampai suara tawa mereka begitu riuh. Sonia tak tahan dan sejenak meninggalkan tugasnya untuk mengamati komplotan Kiting. Sonia mengamati, terdapat secarik kertas yang terus dioper komplotan Kiting. Ketika Kiting menerima kertas tersebut dari Gilang dan membacanya, tawa Kiting membuncah di udara. Kiting kemudian balas menulis sesuatu di kertas itu dan diserahkannya pada Gilang. Ketika Gilang dan Utha membacanya, giliran gelak mereka yang memenuhi ruangan. Begitu terus berulang-ulang.
Ketika jam pelajaran telah habis dan bel istirahat kedua bebunyi, Kiting meremas kertas tersebut hingga lecek dan membuangnya ke jendela sehingga kertas tersebut jatuh ke bawah, dan kemudian bergegas ke lapangan bersama komplotannya. Tak dinyana, Sonia yang daritadi memerhatikan gerak-gerik dan perilaku mereka, melihat secarik kertas itu dibuang. Penasaran dengan isi kertas tersebut, Sonia buru-buru menuruni tangga dan mencari di mana kertas itu berada. Akhirnya ia menemukan kertas tersebut. Setelah melihat isinya, Sonia mengernyitkan dahi. Ia kemudian menyerahkan kertas tersebut kepada Pak Totong!

***

Pak Totong geleng-geleng kepala melihat isi kertas itu. Bangsat, ucapnya dalam hati. Bersama Bu Eva yang guru Bimbingan dan Penyuluhan, Pak Totong memangil Kiting, Utha dan Gilang ke ruang BP.

***

Kiting lemas bukan main. Utha terihat biasa saja dan Gilang masih cengar-cengir. Sekarang mereka sudah tahu penyebab mengapa mereka berada di ruangan itu dari secarik kertas yang dipegang Pak Totong. Anjing tanah!
Pak Totong kemudian menjabarkan kertas tersebut dan membaca dengan lantang apa yang tertulis di sana. “BAPAKLO NGENTOT”.
            Tanpa banyak cincong Pak Totong segera menjewer beringas telinga mereka bertiga. Kemudian Pak Totong membacakan tulisan lain yang tertera di situ dan lagi-lagi menjewer Komplotan Kiting, begitu terus.        

***

Kini kertas itu berada di tangan Bu Eva. Ia geleng-geleng kepala melihat tulisan-tulisan di kertas tersebut. Ia masih membacanya. Ekor mata Bu Eva kemudian menangkap sebuah tulisan yang ia tak terlalu mengerti.
            “Se..po..ngg. Sepong? Kiting, apa ini sepong??” tanya Bu Eva
            Babi hutan. Aku harus menjawab apa? Tai. Akan kujawab sekenanya
            “I..Itu, bu, kue semprong,” kata Kiting sambil memonyongkan mulutnya dan membuat gerakan tangan maju mundur seolah membentuk kue semprong
            Kiting selamat dari jeweran.

***

Setelah selesai diinterogasi di ruang BP, Bu Evi segera menelpon ketiga orang tua anak-anak itu. Hanya mama Kiting yang tak hadir karena sedang ada keperluan. Sebagai gantinya, Bu Eva membuat surat panggilan untuk orangtua Kiting dan menyerahkannya kepada bocah itu agar Kiting menyerahkanya kepada orangtuanya.
Melihat Gilang dan Utha dimarahi mama mereka, Kiting jelas tak bisa membayangkan hal itu tejadi. Apalagi jika ketahuan ayahnya.
           
***

Kiting pulang ke rumah dan mamanya belum pulang. Yang kemudian dilakukannya adalah membuang segera surat panggilan yang ada di tasnya itu ke tempat sampah.
            Tak lama kemudian terdengar suara pagar terbuka dan deru mesin mobil. Mama Kiting pulang. Bocah itu panik. Mama Kiting yang masih mencangklong tas itu segera menuju kamar Kiting yang ada di lantai dua dan tanpa basa-basi langsung menanyai bocah itu.
            “Kiting! Tadi mama ditelpon Bu Eva, katanya kamu masuk BP, ya! Kenapa??”
            Mampus. Dalam tempo sepersekian detik itu Kiting harus mencari jawaban. Saat ini mamanya tak membutuhkan apapun di dunia ini kecuali jawaban. Ah!
“Iya itu jadi saksi, ma. Utha nakal.”

Sunday, August 29, 2010

Arrivederci, David.

Tulisan di bawah adalah tulisan Alessandro Del Piero kepada David Trezeguet ketika tandemnya itu berpisah dengan Juventus. 







Dear David,

it's time to say hello. I lost count of the seasons we played together and goals that we did. Certainly, we are the couple who has scored most in the history of Juventus, the most of Charles and Sivori - two huge samples - and you know this well is a great pride for both. 

How many courses in the years ended as follows: Del Piero and Trezeguet, Trezeguet and Del Piero.How many victories, so many disappointments (fortunately, not many of the satisfactions we have removed), it covers: there is another partner with whom I have played more.

Seventeen year goal of media, such as your jersey number: this is enough to say that six bombers. But for me that I played at your side, you do not need numbers. I think it was an honor to team up the field with one of the greatest strikers in the world, ever.

Now our paths diverge, happens in football. Greet you in the dressing room, but I am pleased to do so publicly also: good luck for your new adventure. We will have many wonderful memories to share, the next time we meet.

Arrivederci, David.


Saturday, July 31, 2010

Tamasya ke Karimun Jawa

Pada tanggal 25 juli kemarin, gw sama temen-temen tamasya ke Karimun Jawa, Jepara.

Grup keberangkatan kebagi 2, ada yang berangkat dari Bekasi, ada juga yang berangkat dari Bandung karena ada beberapa orang yang ikut tes masuk salah satu perguruan tinggi di sana.

Rencana ke Karimun Jawa udah kami susun sedemikian rupa setelah melewati beberapa pertimbangan. Rencana awal, sebenernya pilihan pelesir kami adalah Wakatobi. Terus juga ada opsi lain ke Tanjung Bira. Setelah nimbang-nimbang, akhirnya kami pilih Karimun Jawa jadi tempat tamasya bareng.





 Rumah kami nginep


 Nonton laga tarkam di sana



Foto yang lain gw cari dulu, nanti gw upload lagi.







Sunday, June 6, 2010



happy birthday to you. 
happy birthday sharon merryane urmeneta.
wish you all the kind of good.